#epilog
Naira sibuk melihat ke kanan dan ke kiri dari tadi, mencoba mencari taksi yang mungkin bisa ditumpangi. Tetapi sejak 15 menit yang lalu, tak satupun taksi yang berkenan melewati tempat dia berdiri. Kemudian, tampak sebuah mobil hitam yang telah melewatinya, kemudian perlahan menghampirinya. Mobil tersebut berhenti tepat di depannya, kemudian keluarlah si pengendara mobil.
‘Naira…’
Naira melihat ke arah yang memanggilnya. Ntah sudah berapa kali dia dikagetkan oleh,
‘Utara…’
Utara tersenyum padanya, kemudian mendekat ke arah Naira.
‘Apakabar lo?’
‘Ya ampun kemana ajah lo, Tar. Abis lulus ngilang gitu ajah.’
‘Hahaha, mau kemana lo?’
‘Gue mau ke Ciroyom, buru-buru, makanya nunggu taksi, tapi ga ada yang lewat dari tadi.’
‘Gue anterlah, sekalian ngobrol.’
Tanpa menunggu jawaban, Utara segera menggiring Naira ke dalam mobilnya. Naira, ntah mengapa, hanya menurut saja tanpa penolakkan.
‘Ngapain lo ke Ciroyom, sore-sore gini?’
‘Oh, main doang.’
Utara membuka percakapan, setelah beberapa menit terjadi keheningan di mobilnya.
‘Rajin amat, hahaha.’
‘Eh, lo kemana ajah, Tar? Satu tahun ini?’
‘Kerja di Jakarta, Nai. Lah, elo, ngapain masih disini?’
‘Oh, gue kerja juga, sambil S2.’
‘S2nya jadi disini, Nai. Kata Seno lo mau ngambil S2 di Korea?’
‘Ah, iyah. Ga boleh nyokap, disuruh di sini ajah.’
‘Oooo.’ Jawab Utara pendek.
Naira mengamati sosok lelaki di sampingnya, ada segumpal rindu yang akhirnya pecah berurai. Ada sekumpulan air berhimpun di pelupuk matanya. Ada secercah harapan muncul di dadanya. Kemudian, dia tersenyum, tanda bahagia tak terperi karena mampu bertahan selama ini. Sendiri.
‘Dimananya lo berenti?’
‘Diatap pasarnya.’
Mobil Utara kemudian menaiki jalan menuju parkiran atap pasar Ciroyom. Senja berwarna jingga keperakkan mulai menunjukkan dirinya. Mobil lalu berhenti pada sudut atap.
‘Waaah, makasih banyak yah, Tar. Sekalinya ketemu, lo nolongin gue. Mau dibales dengan apa nih?’
Utara tertawa mendengar ucapan Naira.
‘Oh, gue tahu nih. Dua bulan lagi lo harus kosongin waktu.’
‘Buat apa?’
‘Insya Alloh, gue nikah. Dateng yak.’
Naira tersenyum hangat.
‘Insya Alloh.’ jawabnya penuh dengan kepastian.
‘Hahaha, nanti undangan menyusul lah yah.’
‘Siplah, eh gue turun dulu yah, makasih yah, Tar.’
‘Santai, sama-sama, dateng yak, awas kalo kagak lo.’
Naira kemudian turun dari mobil. Utara segera berlalu, Naira mengantarnya dengan lambaian tangan. Air mata bahagia yang sempat tertahan di pelupuk, akhirnya lepas berurai. Sama seperti perasaannya yang telah menggantung di dada selama berbulan-bulan ini. Ada rasa lega, yang tak mampu diungkapkan. Ada rasa bahagia karena telah datang kepastian walau menyedihkan. Mungkinkah, ini yang namanya cinta.
‘Kak Naira kenapa nangis.’ Tanya Egi yang ntah darimana tiba-tiba datang.
‘Kakak bahagia melihat munculnya senja hari ini. Akhirnya dia datang juga dan indah.’
Egi mengangguk lalu menggandeng tangan Naira menuju kumpulan anak-anak yang sedang membaca buku-buku cerita.




18