Jilbab Arin

Arini berlari cepat menyusuri rumah-rumah di tempat sekitaran dia tinggal. Pohon nangka Uwak Imron hari ini ntah mengapa terlihat seram sekali. Kata teman-temannya, sering ada pocong yang duduk di situ. Dia belum pernah liat sih, tapi dia percaya.

Hari ini, dia sendirian ke rumah Uwak Padil buat mengaji. Riska, teman mengajinya sedang tidak enak badan. Jadilah, dia berlari sekuat tenaga agar tidak bertemu pocong di pohon nangka Uwak Imron.

Sesampai di depan pagar Uwak Padil, Arini berteriak sekencang mungkin. Pintu rumah sudah terbuka, dan sudah banyak sendal yang berserakan di depan pintu.

Assalammualaikum, Uwak.’

‘Waalaikumsalam, semangat banget yah ini Arin malam ini.’

Sambil mencium tangan Uwak Padil, dia kemudian menyelip pada barisan yang telah duduk rapih, menunggu antrian mengaji dan hafalan Asmaul Husna malam ini.

Sudah jam 8, tapi namanya belum dipanggil. Salah dia sih, datang terlambat, kartu mengajinya berada di urutan ketiga dari bawah. Setelah pulang shalat magrib di Masjid tadi, dia sempat-sempatnya, menonton sinetron Tuyul dan Mbak Yul, dulu.

‘Arin.’ Panggil Uwak Padil menganggu lamunan Arin, tentang dengan siapa pulang malam ini.

‘Wah, Arin, udah pake baju tangan panjang, cantik sekali. Kerudungnya minta dibeliin Bunda dong, yang panjang juga. Jangan cuman pake selendang.’ Ujar Uwak Padil lagi padanya.

Gadis kelas 4 SD itu hanya tersipu malu. Jarang-jarang dia dipuji. Pulang ini dia akan langsung meminta kembali jilbab yang telah dibelikan Bunda minggu lalu.

‘Kenapa harus pake jilbab sih, Wak?’

‘Biar Arin makin cantik dan tambah disayang Alloh. Arin seneng ga, kalo Alloh sayang sama Arin?’

Seneng banget Wak.’

‘Yaudah, sekarang ngaji dulu.’

Gadis kecil itu, memulai mengaji dan diakhiri dengan hafalan Asmaul Husna. Kecil-kecil begitu dia sudah lancar membaca Al Quran sejak SD kelas 1. Bagaimana tidak, pada umur 3 tahun, dia merengek untuk ikut mengaji saat melihat kakak-kakak tetangga pergi mengaji selepas magrib. Jadilah, Arini kecil belajar Iqro dan merupakan murid termuda saat itu.

‘Assalamualaikum, Wak.’ Ujar Arin sambil mencium tangan Uwak.

‘Arin pulang sama siapa?’

‘Sendirian, Wak. Riska sakit hari ini.’

‘Wah, hebat yah Arin.’ Ujar Uwak sambil menepuk kepala Arin dengan lembut.

Arin hanya tersenyum bangga, dia baru sadar dia sungguh berani malam ini. Malam ini, dia mendapatkan banyak pujian yang membuat bangga. Tandanya, dia harus lebih baik lagi besok. Sambil tersenyum sendiri, besok dia berjanji akan mulai menggunakan jilbab, selain biar tambah cantik, semoga juga Alloh makin sayang dengannya.

Arin pulang dulu, Wak.’ Ujarnya sambil melambaikan tangan.

Arin mulai berjalan santai. Rumahnya hanya berjarak 10 rumah dari rumah Uwak Padil. Bayang-bayang pocong di pohon nangka Uwak Imron, sungguh menciutkan nyalinya. Tapi, tadi kata Uwak Padil hari ini dia berani. Maka dengan gagah dia melewati pohon nangka Uwak Imron, dan tidak melihat apa-apa.

‘Assalammualaikum, Bunda.’

‘Wah, anak Bunda sudah sampai. Gimana hafalan asmaul husnanya?’

‘Lancar dong, Bun.’ Katanya sambil menunjukkan jari jempolnya yang menandakan kata ‘sip’, ‘Bun, besok Arin, ngajinya pake jilbab yah.’

‘Loh, tumbennn, kemarin Bunda beliin katanya ga mau.’

‘Biar, makin disayang Alloh, Bun…’ Ujarnya sambil mengunyah semangka yang ada dimeja makan.

another story of Arin.

pergi ke mars

‘Mau kemana lo?’

‘Menyebrang ke Mars sebentar?’

‘Pake apa?’

‘Itu!’

Gadis berambut hitam itu menunjuk sekumpulan awan yang sedang terparkir di depan pintu pagar.

‘Seriusan lo? Bukannya itu cuman bisa menyebrangi samudera saja? Memang bisa dipakai menempuh perjalanan antara planet?’ 

‘Ah, elo. Barusan gue bawa ke Pak Mahmuda, udah di modifikasi. Nanti diatur tekanan di sekitar awan kinton agar saat melewati atmosfer, tekanan di dalam awan kinton dengan tekanan lingkungan sama.’

‘Kok bisa sih?’

Gadis tersebut lalu berjalan menuju kumpulan awan tersebut, kemudian lelaki yang sedari tadi bertanya mengikuti gadis tersebut.

‘Liat nih…’

Si gadis lalu menepuk awan tersebut dua kali, kemudian munculah gelasan kaca yang membentuk seperti mangkok yang menutupi awan tersebut. Persis pesawat UFO.

‘Berapa lama ke Mars-nya?’ Lelaki tersebut lalu bertanya dengan nada sendu.

Ntahlah, sebosan gue tinggal disana. Mungkin juga setelah dari Mars, gue mencoba keluar dari galaksi Bima Sakti, bermain di galaksi Radio mungkin.’

‘gue ikut dengan lo.’

‘Enggg…’

‘Bukankah perjalanan berdua itu lebih menyenangkan dibandingkan sendirian?’

Gadis menatap lelaki dalam-dalam, kemudian menggenggam tangan lelaki tersebut erat-erat, takut mengecewakan.

‘Tapi gue ingin berkelana sendirian dulu.’

‘Ah, ya sudahlah.’

‘Apa yang lo lakukan saat gue pergi nanti, ngomong-ngomong.’

‘Menunggu hingga lo balik kembali ke Bumi.’

Lelaki itu kemudian mengecup kening gadis. Lalu, si gadis mulai menaiki awan kinton yang akan membawanya mendarat di Mars, dia lalu menepuk satu kali untuk membuka gelas kaca yang menutupi awan, dan menepuki dua kali agar gelas kaca kembali tertutup. Awan kinton mulai terbang menuju angkasa, lama-lama terlihat makin kecil, dan menghilang.

Si lelaki masih berdiri di balik pagar menatap nanar ke angkasa, karena ditinggal untuk sementara oleh gadis yang dicintainya.

#epilog

Naira sibuk melihat ke kanan dan ke kiri dari tadi, mencoba mencari taksi yang mungkin bisa ditumpangi. Tetapi sejak 15 menit yang lalu, tak satupun taksi yang berkenan melewati tempat dia berdiri. Kemudian, tampak sebuah mobil hitam yang telah melewatinya, kemudian perlahan menghampirinya. Mobil tersebut berhenti tepat di depannya, kemudian keluarlah si pengendara mobil.

‘Naira…’

Naira melihat ke arah yang memanggilnya.  Ntah sudah berapa kali dia dikagetkan oleh,

‘Utara…’

Utara tersenyum padanya, kemudian mendekat ke arah Naira.

‘Apakabar lo?’

‘Ya ampun kemana ajah lo, Tar. Abis lulus ngilang gitu ajah.’

‘Hahaha, mau kemana lo?’

‘Gue mau ke Ciroyom, buru-buru, makanya nunggu taksi, tapi ga ada yang lewat dari tadi.’

‘Gue anterlah, sekalian ngobrol.’

Tanpa menunggu jawaban, Utara segera menggiring Naira ke dalam mobilnya. Naira,  ntah mengapa, hanya menurut saja tanpa penolakkan.

‘Ngapain lo ke Ciroyom, sore-sore gini?’

‘Oh, main doang.’

Utara membuka percakapan, setelah beberapa menit terjadi keheningan di mobilnya.

Rajin amat, hahaha.’

‘Eh, lo kemana ajah, Tar? Satu tahun ini?’

‘Kerja di Jakarta, Nai. Lah, elo, ngapain masih disini?’

‘Oh, gue kerja juga, sambil S2.’

S2nya jadi disini, Nai. Kata Seno lo mau ngambil S2 di Korea?’

‘Ah, iyah. Ga boleh nyokap, disuruh di sini ajah.’

‘Oooo.’ Jawab Utara pendek.

Naira mengamati sosok lelaki di sampingnya, ada segumpal rindu yang akhirnya pecah berurai.  Ada sekumpulan air berhimpun di pelupuk matanya. Ada secercah harapan muncul di dadanya. Kemudian, dia tersenyum, tanda bahagia tak terperi karena mampu bertahan selama ini. Sendiri.

Dimananya lo berenti?’

‘Diatap pasarnya.’

 Mobil Utara kemudian menaiki jalan menuju parkiran atap pasar Ciroyom. Senja berwarna jingga keperakkan mulai menunjukkan dirinya. Mobil lalu berhenti pada sudut atap.

‘Waaah, makasih banyak yah, Tar. Sekalinya ketemu, lo nolongin gue. Mau dibales dengan apa nih?’

Utara tertawa mendengar ucapan Naira.

‘Oh, gue tahu nih. Dua bulan lagi lo harus kosongin waktu.’

‘Buat apa?’

‘Insya Alloh, gue nikah. Dateng yak.’

Naira tersenyum hangat.

Insya Alloh.’ jawabnya penuh dengan kepastian.

Hahaha, nanti undangan menyusul lah yah.’

‘Siplah, eh gue turun dulu yah, makasih yah, Tar.’

Santai, sama-sama, dateng yak, awas kalo kagak lo.’

Naira kemudian turun dari mobil. Utara segera berlalu, Naira mengantarnya dengan lambaian tangan. Air mata bahagia yang sempat tertahan di pelupuk, akhirnya lepas berurai. Sama seperti perasaannya yang telah menggantung di dada selama berbulan-bulan ini. Ada rasa lega, yang tak mampu diungkapkan. Ada rasa bahagia karena telah datang kepastian walau menyedihkan. Mungkinkah, ini yang namanya cinta.

‘Kak Naira kenapa nangis.’ Tanya Egi yang ntah darimana tiba-tiba datang.

‘Kakak bahagia melihat munculnya senja hari ini. Akhirnya dia datang juga dan indah.’

Egi mengangguk lalu menggandeng tangan Naira menuju kumpulan anak-anak yang sedang membaca buku-buku cerita. 

Senja milik Karina

‘Semoga belum hilang.’

Karina berlari cepat menyusuri hutan pinus yang gelap itu, sinar matahari tak mampu melewati barisan pertahanan huatn pinus tersebut. Sesekali dia terpeleset jatuh kemudian bangkit lagi, mencoba mencari ujung dari hutan tersebut.

‘Mau kemana kamu Karina?’ Tanya salah satu pohon pinus tepat di samping dimana Karina jatuh.

‘Mencari senja…’

Karina kemudian berlari lagi, semakin cepat. Dia sungguh takut, kali ini akan melewati kembali senja di ujung barisan pohon-pohon pinus ini.

‘Apakah kami kurang menarik bagimu, Karina. Tiap hari menjelang malam, kamu terus-terusan berlari menyusuri kami, tapi kamu hanya mendapatkan kecewa. Kau takkan melihat senjamu, Karina.’

‘Dia ada, hanya saja aku selalu terlambat menjemputnya.’

Karina terus berlari. Kemudian, pohon-pohon pinus itu hanya tertawa terbahak-bahak membiarkan Karina berlari cepat menginjak tanah hitam pekat.

‘Kamu, takkan bisa menjemput senja, Karina. Dia selalu pergi sebelum kamu datang, menyerahlah.’

Karina terus berlari, tak menghiraukan peringatan dari pohon-pohon pinus tersebut. Dia yakin senja akan menunggunya sebelum terlanjur pergi. Sudah 22 tahun ini dia merindukan senja. Dulu dia pernah merasakan indahnya senja, sewaktu masih di dalam rahim ibunya. Senja berwarna jingga keperakkan, dicampurkan sedikit birunya langit dan lautan. Ibunya yang menceritakan itu semua kepadanya. Karina sudah merindukan senja sejak lama, padahal dia tak pernah melihatnya.

Dia sudah hampir mencapai ujung barisan pohon-pohon pinus itu.

Dia sempat melihat jingga keperakkan itu, tapi dengan cepat digantikan hitamnya langit. Senja kembali menghilang, sama seperti hari-hari kemarin.

Kemudian dia tak sengaja menemukan secarik kertas dengan tulisan,

Mungkin saat ini kau masih terlambat karena memang belum takdir kita untuk saling menyapa, tapi suatu saat kita pasti bertemu, Karina. Untuk saling menggenggam erat, kemudian takkan pernah berpisah seperti saat ini. - Senja milikmu.

Karina tersenyum kemudian mendekap lembut surat itu. Dia berjanji esok hari dia akan kembali mengejar senja, tanpa menyerah.

tuhan kamu dan aku

‘Kita berbeda…’

Aku mengaduk minuman coklat panasku dengan perlahan. Tetapi tidak dengan pandangan-pandanganmu yang terus memburuku dengan cepat.

Lalu kamu sibuk dengan kotak rokokmu, mengetuk-ngetukkannya pada meja coklat yang memisahkan antara aku dan kamu.

‘… Bukan berarti kita tidak bisa terus bersama.’

Kamu masih bertahan dengan argumenmu. Beginilah, rasanya jatuh cinta diwaktu yang salah, dan mungkin dengan orang yang salah. Aku, kamu, kita tahu bahwa sama-sama keras kepala. Tapi  itu menjadi tantangan tersendiri dalam hubungan kita berdua.

Atas nama cinta, kita seringkali menghilangkan ekspektasi satu sama lain. Tetapi sebenarnya ekspektasi itu tidak menghilang, hanya saja menumpuk pada tempat yang berbeda dan kita berdua tak cukup sadar untuk mengetahuinya.

‘Aku ingin menikah seperti teman-temanku yang lain.’

Kamu tersenyum mendengar kalimatku. Lalu kembali memandangku lebih dalam.

‘Sejak kapan kamu ingin menikah? Kamu bilang, kita bisa hidup bersama tanpa perlu menikah. Dan kita bisa melewati itu bersama.’

Waktu berubah, begitu pula aku. Hidupku, ternyata bukan hanya milikku saja. Dan aku ternyata menemukan jalanku.

Aku ingin ada yang membawaku ke surga-Nya.’

Aku menarik nafas panjang. Kemudian masing-masing dari kita diam. Aku, kemudian meneguk sedikit coklat panas untuk membasahi kerongkonganku yang terlanjur kering.

‘Kamu tahu aku tidak bisa menikah denganmu, dan akupun tak pernah berfikir untuk menikah. Tuhanku adalah kehidupan, aku tak percaya agama. Lalu pernikahan macam apa yang kamu inginkan?’

Kamu kesal, aku tahu. Kamu mulai mengeluarkan sebatang rokok kotak rokokmu, lalu kamu menyulutnya dengan api dan menghisapnya pelan-pelan. Lalu meneguk kopi pekatmu. Kemudian kembali menatapku dalam-dalam.

‘Sudahku bilang, kita berbeda. Jika terus berdebat seperti ini, kita takkan menemui ujung bersama. Lupakan aku, dan biarkan aku bahagia.’

Mataku panas, hatiku pedih, dan fikiranku melayang ke waktu kita pertama kali bertemu. Membahas tentang sebuah sistem bersama. Tujuh tahun bersama, ternyata tak membuatku mampu menghilangkan kegelisahan yang selalu diinginkan oleh hampir semua perempuan.

‘Biarkan aku bahagia. Hah? Lalu, berarti kamu tak bahagia tentang kita selama ini?’

Buliran-buliran itu jatuh juga, setelah menggenang hebat di pelupuk mataku. Bukan, bukan itu maksudku. Kamu tidak mengerti, dan takkan pernah mengerti.

‘Kamu tidak mengerti, dan takkan pernah mengerti.’

Bandung, 11 Maret 2012

#theending

1:35 AM

Untukmu Utara, dimanapun kamu berada.

Saya tidak tahu, mengapa saya jadi terus-terusan memikirkanmu. Memikirkan diskusi gila kita berdua, tentang hidup, ketuhanan, hingga masa-masa kejayaan negara kita, hingga detik ini, hanya cinta saja yang belum bisa merusak isi otak kita berdua dengan obrolan-obrolan larut malam ditemani secangkir kopi pekat.

Mungkin, hal ini disebabkan oleh candu yang dihembuskan oleh mereka para penggilamu. Yang kerap kali meneriakkan pesonamu di telingaku, hingga pertahananku roboh tentang karismamu.

Bisa pula, karena takdir yang dulu pertama kali mempertemukan kita berdua. Lalu diakhir dengan perpisahan, dan saling menyimpan nomer telepon genggam masing-masing.

Atau bisa juga karena kita berada dalam lingkaran yang sama, yang menghasilkan interaksi antara kita satu-sama-lain secara tidak langsung. Kamu bercerita dengan mereka, lalu saya juga bercerita dengan mereka. Dan mereka lalu bercerita tentang kita berdua.

Lalu kemudian, banyak hal-hal yang tak bisa dijelaskan dengan minimnya fungsi akal kita berdua. Pertemuan demi pertemuan yang terus berlanjut, yang akhir mengukuhkan berjuta-juta asumsi di kepala seorang perempuan, yaitu saya, yang kamu tahu sendiri bahwa asumsi-asumsi itu selalu  terhubung dengan sebuah konsep bernama perasaan.

Hingga akhirnya, di satu titik, saya rasa kita berdua, perlu duduk kembali dalam satu meja untuk membicarakan hal yang lebih abstrak dan lebih menantang dibandingkan hal-hal  abstrak yang dulu pernah kita bicarakan.

Tentang kita, mungkin untuk mencari tahu bersama perlukah kita meneruskannya pada tingkatan yang lebih jauh dibandingkan hubungan ‘elo dan gue’ seperti sekarang.

Yah, saya memang berharap . Tapi tidak pada kamu sebenarnya, tetapi pada takdir dan doa-doa yang saya titipkan pada setiap sujud kepada-Nya.

Bandung, 11 Maret 2012.

[baca dari awal #0]

fyi, this is my favorite part. kya :3

#20

To : aisyah@ymail.com

Subject: genting!

Syah! Gue diajakkin sama Ghazi buat taa’ruf. As my really bestfriend, i feel it’s important to share about this to you.

Ghazi, syah. Yang sering gue ceritain sama lo. Ghazi yang tiba-tiba dateng waktu gue mengalami kebingungan tentang Utara. Ghazi yang sering muji tulisan-tulisan gue. Ghazi yang bisa jadi tempat sampah gue ngomongin banyak hal. Ghazi juga yang tahu banget betapa gue menggilai Goenawan Mohamad.

Akhirnya, semalem, dia ngajakkin gue buat taa’ruf. Actually, i’m really surprised about it.

Lo tahu kan, gue jadi ga banyak berharap pada siapapun sejak Utara ngilang gitu aja. Dan gue sebenarnya masih ga nyangka Ghazi se-serius ini dengan gue.

Tapi, gue rasa, gue ga bisa nglanjutin hubungan ini dengan Ghazi. Gue juga udah minta sama Allah buat neguhin keputusan gue.  Bukan, bukan gue ga simpati sama dia. Gue ga mau menikah padahal sebenernya hati gue masih belum bener-bener kosong. Gue ga mau menjalani hidup baru padahal belum bisa melepaskan bayang-bayang masa lalu.

Karena hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh.1)

Doain gue semoga keputusan yang gue ambil ini baik buat semuanya. Aamiin.

Sent

1) Perahu Kertas, Dewi Lestari.

[baca dari awal #0]

#19

Nai, lagi sibuk ga?

Setelah seminggu tanpa kabar, hari ini bbm Ghazi masuk ke dalam bbmku lagi. Aku hanya menyengir senang.

Ga, ghaz. Kenapa?

Saya mau nelepon, boleh ga?

Wooooh. Aku terbelalak membaca bbm dari Ghazi, ada perasaan campur aduk, senang, takut, dan gugup.

Err, penting yah?

Penting, Nai. Hehehe.

Okeh, boleh kok. Jawabku.

—-

‘Assalammualaikum.’ Suara diseberang sana terdengar menenangkan.

‘Waalaikum, ghaz…’ Jawabku tidak kalah mencoba tenang, padahal perasaan sudah campur aduk sekali dibuatnya.

‘Hem, saya anaknya ga bisa basa-basi, kita langsung ajah yah.’

Deg! Mampus aku, mau ngapain nih orang. Tiba-tiba serius. Jangan-jangan…

‘Eee, saya fikir, sudah cukup mengenal kamu dan kita sudah tahu visi-misi hidup masing-masing. Saya sudah nanya sama Allah juga. Kamu mau ga terusin hubungan ini ke yang lebih serius?’

Aku diam, badanku gemetar. Inhale-exhale-inhale-exhale. Eh, ini di khitbah bukan sih? Bukan yah. Okeh, ini aku udah panik lebay sendiri. Yang diseberang sana pasti menunggu jawaban.

‘Ehm, butuh jawabannya sekarang Ghaz?’

‘Kalo kamu butuh waktu, saya mepersilakan kok. Buat netapin pilihan.’

‘Makasih yah, Ghaz…’

‘Saya tutup ajah pembicaraan malam ini, nanti saya hubungin kamu lagi. Ehm, berapa lama, Nai?’

Huwaaa, berapa lama yahhh. Berapa lamaaa.

‘Lusa kamu telepon saya lagi ajah. Insya Allah sudah ada jawabannya.’ Jawabku mencoba tenang.

‘Oke, assalammualaikum, Nai.’

‘Waalaikumsalam, Ghaz.’

Ibuuuuuuuuuuuu, anakmu ibuuuu.

[baca dari awal #0]

#18

‘Gimana, Nai?’

‘Gimana apanya?’ Jawabku sambil mengunyah cireng, kemudian melihat ke arah Adi yang duduk di sebelah ku sambil meminum teh botolnya.

‘Ghazi?’

‘Baik kok, pinter lagi.’ Kataku sambil terus mengunyah cireng.

‘Kalo diajak lanjut gimana sama dia?’

‘Lanjut apaan?’

‘Lanjut taaruf?’

Aku diam, cireng yang terasa seperti batu dikerongkonganku. Glek. Akhirnya tertelan. Aku mencoba mencari kalimat yang pas. Kuputar kedua bola mataku, sambil mengerutkan dahi.

‘Liat ntar deh…’

‘Tapi kan lo katanya mau nikah tahun ini?’

‘Itu juga kalo gue nggak dapet ke Korea, di.’

—-

Assalammualaikum, Naira…

Bbm dari Ghazi masuk ke telepon selularku, malam ini. Kubalas segera.

Waalaikukum salam, Ghazi.

Eh, mau nanya, kemaren kamu bilang suka dengan tulisan Goenawan Mohamad. Saya belum pernah baca tulisannya, ada rekomendasi yang menarik?

Kulirik buku yang sedang kupegang, kuketik dengan cepat.

Saya lagi baca ‘Debu, Duka, Dsb’ nih.

Gimana memang isinya? Bagus kah? :D. Tanya Ghazi kepadaku.

Percakapan kami berlanjut cukup lama, hingga dia izin untuk tidur karena besok harus kerja. Ntah kenapa, aku senang sekali rasanya. Sulit menemukan orang yang mampu ‘mendengarkan’ celotehanku tentang buku untuk waktu yang cukup lama. Ghazi sungguh memiliki pribadi yang menarik.

[baca dari awal #0]

#17

‘Naira…’ Kataku sambil mengatupkan kedua tanganku di dada. Sudah dua bulan ini aku enggan bersalaman dengan lelaki manapun.

‘Ghazi.’ Jawabnya, dan ternyata melakukan hal yang sama.

Walau di awal, membutuhkan Adi untuk mencairkan suasana, tetapi setelah 15 menit kemudian, kita bertiga lebih akrab dan sudah lebih banyak tertawa.

Ghazi adalah alumni sebuah unversitas ternama di Jakarta jurusan Hubungan Internasional yang baru saja lulus beberapa bulan yang lalu. Saat ini sedang sibuk bekerja di  departemen luar negeri, tetapi tidak hanya itu juga masih aktif di lembaga kemahasiswaannya dulu dan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berhubungan dengan dunia perpolitikkan. Ghazi juga memiliki hobi membaca, dan yang mencengangkan dia adalah seorang yang agamis tetapi sangat openminded.

Setelah dua jam mengobrol ngalur-ngidul, Ghazi mohon pamit karena sudah dia harus segera pulang ke Jakarta, karena besok harus bekerja. Ghazi dan Adi pulang dengan naik motor Adi, dan aku pulang menggunakan angkot yang langsung menuju tempat tinggalku.

Setiba di kamar kostan, tiba-tiba ada bbm masuk, ada invite-an dari Ghazi. Tanpa pikir panjang, langsung keterima ajakkan pertemanannya.

Kemudian ada bbm masuk dari Ghazi,

Assalammualaikum.

Waalaikum salam, jawabku.

Terimakasih tadi sudah mau meluangkan waktu untuk bertemu, saya sungguh senang.

Ada senyum tipis yang tercipta di wajahku membaca bbm darinya. Alhamdulillah.

[baca dari awal #0]

#16

PING!!!

Tiba-tiba ada bbm masuk dari Adi. Tumben nih anak tiba-tiba ng-bbm.

Kenapa?

Balasku.

Lo tahu ga, kalo lo punya fans?

Aku melongo membacanya. Fans? Fans dari Hongkong!

Apaan dah.

Lalu bbm dari Adi masuk panjang lebar.

Temen gue, katanya mau kenalan sama lo, Minggu dia ke Bandung. Mau ga?

Buset! Jawabku seenaknya.

Mau ga?

Kok dia bisa tahu gue?

Dia sering baca blog lo. Katanya lo sama dia sepemikiran. Jadi penasaran yang mana orangnya.

Gue pikir-pikir dulu deh. Jawabku lagi.

Yailah, kenalan doang! Jual mahal amat deh neng.

Aku berpikir. Iyah juga, kenalan doang, ngapain nolak. Itung-itung nambah temen.

Oke deh!

[baca dari awal #0]

#15

[musik]

setiap pagi ku menunggu di depan pintu
siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
di setiap pagimu, siangmu, malammu

oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu


7:26 PM

Apa yang lebih menyedihkan daripada mencintai diam-diam? Tak ada.

Kita bergelut dalam ketidakpastian dan asumsi-asumsi yang terus menyesakkan.

Kemudian rindu yang tak terkirim. Segala pengharapan tanpa batasan.

Lelah.

Mungkin saatnya, kita harus berhenti lalu kemudian pergi dan lupa.

Post.


[baca dari awal #0]

#14

‘Utara, elo kenal kagak?’

‘Bentar, bentar, kayaknya gue tahu deh.’ Aisyah memandang keluar mencoba mencari tahu di dalam lemari memori otaknya tentang Utara.

‘Temennya, Mail.’

‘Yang kahim itu bukan sih?’

‘Iyah..’ Aku menyengir tersipu malu, sambil menahan malu, tanpa sadar mukaku sudah sewarna dengan baju yang kupakai, merah muda. ‘… Tapi ga ada apa-apa kok, gue doang yang mengidolakannya, mana mau dia sama gue.’

‘Yailah nih bocah. Kalo kata Paul Coelho tuh yah, And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Apa yang ga mungkin sih di dunia ini. Gimana-gimana itu ceritanya? Kok bisa naksir?’ Aisyah menyeruput minumannya, kedua tangannya memangku wajahnya, tampak siap mendengarkan kisah cinta ini, tsaaah.

‘Utara baik banget, syah. Terus cool-cool gitu anaknya, tapi gue banget. Mana alim, dia pernah ngajak gue shalat bareng, hahaha. Gue langsung naksir gara-gara kita ngisi acara bareng, keliatan banget cerdasnya, cara ngomongnya bagus, charming banget deh. Sebenernya dia ga ganteng sih, tapi pesonanya, syahhh, pesonanyaaaa. Pasti bikin lo meleleh.

Belum lagi waktu, dia mimpin rapat waktu kita satu tim, dia itu perhatian banget sama anak buahnya, pantes kayaknya dia kahim yang baik.’

Aisyah memandangku lekat-lekat sambil tersenyum menggoda.

‘Terus-terus?’ tanyanya.

‘Terus apa?’ Jawabku sambil membelalakkan mata.

‘Terus gimana? Ada kemajuan ga?’

‘Yah, kan lo tahu sendiri, gue anaknya ga mau pacaran, tapi naksir boleh kan yah.’ Jawabku sambil mengedipkan mata.

‘Lo beneran naksir dia, Nai?’

‘Gimana yah, namanya juga cewek, pasti ada ngarepnya. Tapi gue sama dia itu kayak langit dan bumi. Ahhh, dia almost perfect, syah. Sedangkan gue? Ga sebanding lah sama dia. Lagian gue udah ga pernah ketemu dia lagi dari Oktober dan ini udah 4 bulan, dia juga ga pernah nghubungin gue. Kalo gue sapa di twitter ga dibales. Emang dia ga ada perasaan apa-apa.’ Jawabku sambil mengatupkan kedua tanganku ke muka.

‘Ga ada yang ga mungkin di dunia ini, Nai.’

[baca dari awal #0]

#13

Apakabar lo? Jalan yuk hari Minggu, di tempat biasa, jam 7 malem.

Pesan singkat itu masuk ke kotak masuk telepon genggamku. Aisyah pengirimnya. Sahabat satu kampus yang jarang sekali bertemu.

Baiiiiiiik, elo? Ihhhh, kangen pisan gue sama lo. Siap bos! Jam 7 yak!

Balasku cepat.

—-

‘Naira!’ Aisyah melambaikan tangannya padaku, dia sudah duduk di pojokkan coffee cafe tempat kita janjian.

‘Oi!’ Aku segera menghampirinya, berlari kecil dan langsung mengambil tempat duduk tepat di depannya. Pemdangan tempat kami duduk cukup bagus, karena tempat ini berada di daerah yang cukup tinggi.

‘Kangen gue sama elo. Hahaha.’

‘Gue juga kali, gimana sidang lo? Maaf yah gue ga dateng, harus balik kemaren soalnya.’ Tanyaku padanya, sambil mengamati menu yang ada di depanku. Nasi iga bakar padang terlihat enak, dan jus stroberi tanpa susu terlihat menarik.

‘Yah gitu deh, hahaha, alhamdulillah sudah beres semuanya legaaaaaaa…’ Jawabnya sambil melebarkan kedua tangannya dan tertawa renyah. ‘Lo pesen apa?’

‘Lo apa? Gue pengen nasi iga bakar padang kayaknya enak nih,’

‘Gue nasi goreng kambing. Tapi udah pesen, gue panggil dulu mas-nya yah.’ Aisyah mengangkat tangan kanannya, sambil sedikit berteriak, ‘Mas!’

Yang dipanggil menoleh lalu berjalan menghampiri kami berdua.

‘Ada tambahan?’ Tanya mas-nya.

‘Saya mau iga bakar padang sama jus stroberi, ga pake susu yah, es-nya dikit ajah.’ Kataku padanya, lalu ditambah cengiran karena merasa banyak maunya.

‘Okeh, ditunggu 15 menit yah. Ada lagi?’

‘Ga deh, itu ajah.’ Tutup ku. Dan si mas langsung berlalu.

‘Elo gimana? Jadi lanjut S2?’

‘Jadiiiiii, gue mau nyoba ke Korea, tapi pengumumannya masih lama, April. Berkas terakhir masuk Maret akhir. Huhuhu, nganggur deh gue.’

‘Hahaha, tapi lo masih ngajar-ngajar gitu kan?’

‘Masih, sih syah. Tapi yah gitu deh, lebih banyak waktu kosongnya.’ Jawabku sambil diiringi menarik nafas panjang.

‘Eh, gimana kabar kisah cinta lo, kepo nih gue…’

Aku terdiam. Ntah mengapa langsung terbayangkan Utara, yang sudah lama sekali tak pernah ada komunikasi antara kami berdua sejak Oktober tahun lalu.

‘Permisi mbak, ini minumannya.’ Pelayan datang membawakan dua minuman kami berdua, memutuskan percakapan kami berdua, kutunda untuk menjawab pertanyaan Aisyah.

[baca dari awal #0]

#12

‘Senoooo!’ Teriakku pada lelaki di seberang sana, yang sedang berjalan sendirian. Sambil melambaikan aku mendekat kepadanya yang juga melambaikan tangan, ‘Apakabar lo?! Kapan sidang?’

‘Ntarlah, santai. Hahaha. Lo masih di kampus ajah? Udah lulus juga’ Tanya Seno padaku.

‘Iyah nih, lagi ngurusin berkas buat keluar.’

‘Asik, emang mau daftar apa?’

‘Beasiswa Korea gitu deh.’

‘Gokil banget anak satu ini. Eh ngomong-ngomong, nanti lo ikut liburan ga?

Kami asik berbincang di pinggir jalan. Sudah lama sekali tidak bertemu dengan Seno. Seno adalah salah satu teman tim waktu pemilu.

‘Ah, gue ga bisa nih, ada kerjaan.’

‘Yaelah, hari libur masak kerja?’

‘Seriusaaan.’

‘Padahal, barusan ajah Utara ngirim pesan ke gue, dia bilang ajakkin Naira, yah.’

Seketika mukaku merah padam. Utara. Apakabar dia.

‘Cieee, Nairaa.’ Lanjut Seno sambil menggodaku.

‘Apaan sih, kagak percaya gue. Udah tahu gue belang lo sama Fadli. Cih..’ Jawabku sambil terbahak.

‘Yah, dia ga percaya, nih gue tunjukkin smsnya.’

Seno mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukkan sms paling atas dan kulihat memang benar .

Gue ikut, sen. Masih di Jakarta nih. Yang lain pada ikut ga? Kayak Naira? Ajakkin dong.

Pesan singkat itu langsung membuat sekujur tubuhku bergetar, jantungku berdegup cepat. Ntah malu karena makin ada saja bahan anak-anak satu tim menggoda kami, ntah senang karena Utara yang menanyakan hal tidak penting tersebut, ntah juga sedih karena memang tidak bisa ikut dan artinya tidak bisa bertemu Naira.

‘Kenapa dari semua cewek yang ada di tim cuman lo doang yang diinget, kurang bukti apa lagi nih, Naiiii.’ Seno mencoba menggoda ku lagi sambil tertawa lepas, ‘Apa perlu nih gue tunjukkin percakapan gue di YM ke elo, eh jangan ding rahasia lelaki.’

Aku tersenyum tipis, bingung harus menanggapi Seno seperti apa. Aku masih mencoba mencerna kata-per-kata kalimat Seno yang makin membuat aliran darah terasa bergerak cepat ke otak dan menghasilkan waran merah jambu di wajahku.

‘Eh, iyah, gue musti ketemu dosen nih, Sen. Salam ajah yang lain.’ Kataku sambil melihat jam.

‘Oh, iyah gue lupa, musti ke bank ngurusuin atm. Okeh, okeh. Mau titip salam buat Utara ga? Hahahaha’

‘Apaan sih… Eh gue duluan yah, Sen.’ Jawabku sambil cepat-cepat berlalu menuju kantor program studi.

[baca dari awal #0]