Jilbab Arin
Arini berlari cepat menyusuri rumah-rumah di tempat sekitaran dia tinggal. Pohon nangka Uwak Imron hari ini ntah mengapa terlihat seram sekali. Kata teman-temannya, sering ada pocong yang duduk di situ. Dia belum pernah liat sih, tapi dia percaya.
Hari ini, dia sendirian ke rumah Uwak Padil buat mengaji. Riska, teman mengajinya sedang tidak enak badan. Jadilah, dia berlari sekuat tenaga agar tidak bertemu pocong di pohon nangka Uwak Imron.
Sesampai di depan pagar Uwak Padil, Arini berteriak sekencang mungkin. Pintu rumah sudah terbuka, dan sudah banyak sendal yang berserakan di depan pintu.
‘Assalammualaikum, Uwak.’
‘Waalaikumsalam, semangat banget yah ini Arin malam ini.’
Sambil mencium tangan Uwak Padil, dia kemudian menyelip pada barisan yang telah duduk rapih, menunggu antrian mengaji dan hafalan Asmaul Husna malam ini.
Sudah jam 8, tapi namanya belum dipanggil. Salah dia sih, datang terlambat, kartu mengajinya berada di urutan ketiga dari bawah. Setelah pulang shalat magrib di Masjid tadi, dia sempat-sempatnya, menonton sinetron Tuyul dan Mbak Yul, dulu.
‘Arin.’ Panggil Uwak Padil menganggu lamunan Arin, tentang dengan siapa pulang malam ini.
‘Wah, Arin, udah pake baju tangan panjang, cantik sekali. Kerudungnya minta dibeliin Bunda dong, yang panjang juga. Jangan cuman pake selendang.’ Ujar Uwak Padil lagi padanya.
Gadis kelas 4 SD itu hanya tersipu malu. Jarang-jarang dia dipuji. Pulang ini dia akan langsung meminta kembali jilbab yang telah dibelikan Bunda minggu lalu.
‘Kenapa harus pake jilbab sih, Wak?’
‘Biar Arin makin cantik dan tambah disayang Alloh. Arin seneng ga, kalo Alloh sayang sama Arin?’
‘Seneng banget Wak.’
‘Yaudah, sekarang ngaji dulu.’
Gadis kecil itu, memulai mengaji dan diakhiri dengan hafalan Asmaul Husna. Kecil-kecil begitu dia sudah lancar membaca Al Quran sejak SD kelas 1. Bagaimana tidak, pada umur 3 tahun, dia merengek untuk ikut mengaji saat melihat kakak-kakak tetangga pergi mengaji selepas magrib. Jadilah, Arini kecil belajar Iqro dan merupakan murid termuda saat itu.
‘Assalamualaikum, Wak.’ Ujar Arin sambil mencium tangan Uwak.
‘Arin pulang sama siapa?’
‘Sendirian, Wak. Riska sakit hari ini.’
‘Wah, hebat yah Arin.’ Ujar Uwak sambil menepuk kepala Arin dengan lembut.
Arin hanya tersenyum bangga, dia baru sadar dia sungguh berani malam ini. Malam ini, dia mendapatkan banyak pujian yang membuat bangga. Tandanya, dia harus lebih baik lagi besok. Sambil tersenyum sendiri, besok dia berjanji akan mulai menggunakan jilbab, selain biar tambah cantik, semoga juga Alloh makin sayang dengannya.
‘Arin pulang dulu, Wak.’ Ujarnya sambil melambaikan tangan.
Arin mulai berjalan santai. Rumahnya hanya berjarak 10 rumah dari rumah Uwak Padil. Bayang-bayang pocong di pohon nangka Uwak Imron, sungguh menciutkan nyalinya. Tapi, tadi kata Uwak Padil hari ini dia berani. Maka dengan gagah dia melewati pohon nangka Uwak Imron, dan tidak melihat apa-apa.
‘Assalammualaikum, Bunda.’
‘Wah, anak Bunda sudah sampai. Gimana hafalan asmaul husnanya?’
‘Lancar dong, Bun.’ Katanya sambil menunjukkan jari jempolnya yang menandakan kata ‘sip’, ‘Bun, besok Arin, ngajinya pake jilbab yah.’
‘Loh, tumbennn, kemarin Bunda beliin katanya ga mau.’
‘Biar, makin disayang Alloh, Bun…’ Ujarnya sambil mengunyah semangka yang ada dimeja makan.




2