9dariNadira

Saya membaca ‘9 dari Nadira’ untuk kesekian kalinya. Dan bagian ini selalu menjadi bagian favorit saya, karena romantis yang keterlaluan.

Bram mengangguk. Tidak menghakimi. Tiba-tiba aku ingin sekali masuk ke dalam jaketnya yang terasa hangat. Dan tiba-tiba itulah yang terjadi. Lebih gila lagi, Bram sama sekali tidak terkejut dengan seranganku yang begitu mendadak.

“Aku tak mau ke Wina dan ke Venice…”

Bram malah memelukku semakin erat. Apakah magnet terasa begini hangat; dan apakah ilmu fisika dulu sempat mengajarkan bahwa magnet bisa mengalirkan rasa panas ke dalam tubuh manusia?

Malam itu kami berbincang hingga pagi di kamarku. Kami tak melakukan apa-apa, kecuali berpelukkan dan berpegangan tangan. Dan itu sudah cukup menggetarkanku.

Aku lebih banyak bercerita tentang buku-buku yang tengah kubaca. Saat itu aku baru menyelesaikan She Came to Stay dari Simone de Beauvoir. Bram mendengarkan ocehanku dengan tenang. Matanya seperti sebuah danau yang sanggup menelanku.

“Tulisan siapa yang kau kagumi?” tanyaku setelah menyadari aku berbicara banyak. Bram tersenyum. Hanya beberapa hari kemudian, setelah aku mampir ke apartemennya, aku melihat beberapa tulisan karya M. Natsir pemimpin Partai Masyumi.

Siapa sih Al Fatih?
Jujur, sebelum membaca buku ini, saya tidak tahu Al Fatih itu siapa, dan mengapa dia begitu terkenal. Dan ngapain ajah sih dia sampai dia begitu diagung-agungkan.
Dan setelah membaca buku ini, saya merasa tertampar keras-keras. Di saat usianya sudah menginjak 23 tahun, dia berhasil menaklukan Konstantinopel. 700 tahun umat Islam menunggu, dan dengan gagahnya Al Fatih mendapatkan Konstantinopel dengan terhormat.
‘Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukkan. Dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima.’
Tapi, walau buku ini penuh dengan inspirasi bagi umat muslim, gaya bercerita Ust. Felix Siauw kurang greget sebenarnya. Ntah, mungkin karena saya terlalu adore dengan cara menulis Salim A Fillah sehingga sering membuat saya jadi membanding-bandingkan kisah-kisah yang Ust. Salim tulis dengan penulis lainnya. Dan, feel perjuangan di buku ini kurang terasa, yang akhirnya membuat kurang greget.
Saya kasih 3.5 dari 5 untuk buku ini. But, it’s really recommended to read.

Siapa sih Al Fatih?

Jujur, sebelum membaca buku ini, saya tidak tahu Al Fatih itu siapa, dan mengapa dia begitu terkenal. Dan ngapain ajah sih dia sampai dia begitu diagung-agungkan.

Dan setelah membaca buku ini, saya merasa tertampar keras-keras. Di saat usianya sudah menginjak 23 tahun, dia berhasil menaklukan Konstantinopel. 700 tahun umat Islam menunggu, dan dengan gagahnya Al Fatih mendapatkan Konstantinopel dengan terhormat.

‘Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukkan. Dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima.’

Tapi, walau buku ini penuh dengan inspirasi bagi umat muslim, gaya bercerita Ust. Felix Siauw kurang greget sebenarnya. Ntah, mungkin karena saya terlalu adore dengan cara menulis Salim A Fillah sehingga sering membuat saya jadi membanding-bandingkan kisah-kisah yang Ust. Salim tulis dengan penulis lainnya. Dan, feel perjuangan di buku ini kurang terasa, yang akhirnya membuat kurang greget.

Saya kasih 3.5 dari 5 untuk buku ini. But, it’s really recommended to read.

Buku Dee kelima yang saya baca. Dan saya masih merasa dia awesome.
Ntahlah, bagi saya membaca buku ini mengingatkan saya pada mata kuliah di jurusan saya, fisika, yaitu sistem kompleks dan fisika kuantum. Karena itu, setiap bertemu dengan hal-hal yang berhubungan dengan fisika, saya jadi senyum-senyum sendiri. Rindu saya akan Fisika terobati. Fractal, chaos, order, Schrodinger cat, dan sebagainya, adalah dunia saya yang lain.
Kalo saya lihat, setiap buku Dee memiliki karakter sendiri, Filosofi Kopi, Madre, Perahu Kertas, Rectoverso, begitu pula Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh ini.
Saya tidak akan membahas banyak tentang cerita di buku ini. Karena, tampaknya saya telaaaat banget menikmati buku ini. Di saat orang-orang sudah sibuk dengan ‘Partikel’, saya bahkan masih sibuk dengan ‘KPBJ’. Hahaha.
Pokoknya, saya menikmati betul tiap lembar buku ini. Bagi saya, pasangan Ruben dan Dimas betul-betul romantis, ntah mengapa. Dan banyak hal yang berhasil membuat saya berkontemplasi ria saat membaca buku ini. Oh, terimakasih Dee.
Saya kasih nilai 4 dari 5. Mari kita meng-Akar!

Buku Dee kelima yang saya baca. Dan saya masih merasa dia awesome.

Ntahlah, bagi saya membaca buku ini mengingatkan saya pada mata kuliah di jurusan saya, fisika, yaitu sistem kompleks dan fisika kuantum. Karena itu, setiap bertemu dengan hal-hal yang berhubungan dengan fisika, saya jadi senyum-senyum sendiri. Rindu saya akan Fisika terobati. Fractal, chaos, order, Schrodinger cat, dan sebagainya, adalah dunia saya yang lain.

Kalo saya lihat, setiap buku Dee memiliki karakter sendiri, Filosofi Kopi, Madre, Perahu Kertas, Rectoverso, begitu pula Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh ini.

Saya tidak akan membahas banyak tentang cerita di buku ini. Karena, tampaknya saya telaaaat banget menikmati buku ini. Di saat orang-orang sudah sibuk dengan ‘Partikel’, saya bahkan masih sibuk dengan ‘KPBJ’. Hahaha.

Pokoknya, saya menikmati betul tiap lembar buku ini. Bagi saya, pasangan Ruben dan Dimas betul-betul romantis, ntah mengapa. Dan banyak hal yang berhasil membuat saya berkontemplasi ria saat membaca buku ini. Oh, terimakasih Dee.

Saya kasih nilai 4 dari 5. Mari kita meng-Akar!

Buku kedua yang saya pinjam dari Kak Rumah Kaca.
Pernah denger Seno Gumira Ajidarma? Ini buku kedua yang dia yang saya baca. Buku pertama Linguae memang sukses mencari hati saya #asyik. :P
Sepotong Senja untuk Pacarku ini, merupakan judul pertama tulisannya di buku ini yang memang melulu tentang senja. Saya sendiri adalah pecinta senja, makanya sangat terpuaskan dengan membaca setiap tulisan-tulisan imajinatif Seno.
Favorit saya tentu adalah Sepotong Senja untuk Pacarku, disitu diceritakan bagaimana perjuangan Seno membawakan senja untuk pacarnya. Menarikkan?
Pokoknya, yang mengaku-ngaku pecinta senja, ga afdol kalo belum baca buku sastra ini.
Saya kasih nilai 4/5

Buku kedua yang saya pinjam dari Kak Rumah Kaca.

Pernah denger Seno Gumira Ajidarma? Ini buku kedua yang dia yang saya baca. Buku pertama Linguae memang sukses mencari hati saya #asyik. :P

Sepotong Senja untuk Pacarku ini, merupakan judul pertama tulisannya di buku ini yang memang melulu tentang senja. Saya sendiri adalah pecinta senja, makanya sangat terpuaskan dengan membaca setiap tulisan-tulisan imajinatif Seno.

Favorit saya tentu adalah Sepotong Senja untuk Pacarku, disitu diceritakan bagaimana perjuangan Seno membawakan senja untuk pacarnya. Menarikkan?

Pokoknya, yang mengaku-ngaku pecinta senja, ga afdol kalo belum baca buku sastra ini.

Saya kasih nilai 4/5

Judul dalam bahasa Indonesia-nya : Tentang Cinta.
Pertama kali tahu buku ini, karena dikasih liat oleh teman saya yang bernama Rumah Kaca. Pas baca, tidak menyangka buku yang saya baca ini sebagus ini, saya ulangi, sebagus ini.
Mungkin kesannya remeh banget, apalagi saya terus-terusan diledekkin sama orang-orang yang liat saya pas baca buku ini. Pasti dikomentarin, ‘Cie, bacaannya galau banget, Tentang Cinta’.
Padaaaaaaaaahal, coba sebutin, buku tentang cinta mana yang pernah masukkin tulisan-tulisan Marxis, atau fisuf-filsuf Yunani, atau potongan-potongan kalimat Nietzsche. Buku mana? 
And, actually, buku ini tidak segalau itu. Percayalah.
Intinya, buku ini berisikan tentang narasi kisah cinta antara si Penulis dengan kekasihnya yang bernama Chloe, dimana tiap bab dari buku ini kita akan menyimak filsafah-filsafah tentang cinta. Yah, intinya, cinta itu se-kompleks itu untuk dimengerti, bahkan walau sudah dicoba dideskripsikan dalam tiap tulisan di buku ini. Tapi seriusan, buku ini menyentuh hati sekali. Karya sastra tentang cinta yang begitu nikmat untuk dibaca.
Saya kasih nilai 5 dari 5. 

Judul dalam bahasa Indonesia-nya : Tentang Cinta.

Pertama kali tahu buku ini, karena dikasih liat oleh teman saya yang bernama Rumah Kaca. Pas baca, tidak menyangka buku yang saya baca ini sebagus ini, saya ulangi, sebagus ini.

Mungkin kesannya remeh banget, apalagi saya terus-terusan diledekkin sama orang-orang yang liat saya pas baca buku ini. Pasti dikomentarin, ‘Cie, bacaannya galau banget, Tentang Cinta’.

Padaaaaaaaaahal, coba sebutin, buku tentang cinta mana yang pernah masukkin tulisan-tulisan Marxis, atau fisuf-filsuf Yunani, atau potongan-potongan kalimat Nietzsche. Buku mana? 

And, actually, buku ini tidak segalau itu. Percayalah.

Intinya, buku ini berisikan tentang narasi kisah cinta antara si Penulis dengan kekasihnya yang bernama Chloe, dimana tiap bab dari buku ini kita akan menyimak filsafah-filsafah tentang cinta. Yah, intinya, cinta itu se-kompleks itu untuk dimengerti, bahkan walau sudah dicoba dideskripsikan dalam tiap tulisan di buku ini. Tapi seriusan, buku ini menyentuh hati sekali. Karya sastra tentang cinta yang begitu nikmat untuk dibaca.

Saya kasih nilai 5 dari 5. 

Cuman 14 halaman sihhhhh, tapi tulisannya muantap!

Cuman 14 halaman sihhhhh, tapi tulisannya muantap!

I’m not big fan of Raditya Dika. Kadang-kadang masih sering ngerasa garing denger lawakkannya. Pertama kali baca buku dia waktu SMA, Kambing Jantan, terus ngerasa males nglanjuttin, dan akhirnya ga pernah baca-baca buku-buku dia selanjutnya.
Beberapa waktu yang lalu Dee, memuji buku ini. Akhirnya, saya tergoda untuk membelinya, dan lagi butuh bahan tertawaan.
Cover-nya aneh banget, komentar pertama pas baca, apalagi dibuka dengan cerita kentut antara dia dan bapaknya. Tapi lama kelamaan saya menikmati guyonan dia, dan bagaimana cara dia menulis setiap bab dalam bukunya.
Komentar saya setelah membaca ini, ‘Aish, Raditya Dika ternyata penulis yang cerdas.’ 
Saya ga bakalan ngbahas buku-nya lebih detail, karena banyak kejutan lawakkan dan advice di tiap cerita dia. Yang pasti buku ini menceritakan tentang proses perpindahan. Perpindahan dari muda ke tua, perpindahan rumah, bahkan perpindahan dari hati yang satu ke hati yang lain.
Ntah kenapa, saya ngerasa baca buku ini di waktu yang tepat. Di saat saya harus mengalami perpindahan fasa dalam hidup saya. Lah jadi curhat… *tepok jidat*
Saya paling suka bagian dia dan ibunya, dan satu lagi bab ‘manusia setengah salmon’ yang kalo menurut saya adalah konklusi dari buku ini.
Saya ga nyesel beli buku ini, dan recommended to read-lah.
Saya kasih 4/5.

Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. Kita hidup diantaranya. - Radityan Dika, halaman 254 Buku ‘Manusia Setengah Salmon’

I’m not big fan of Raditya Dika. Kadang-kadang masih sering ngerasa garing denger lawakkannya. Pertama kali baca buku dia waktu SMA, Kambing Jantan, terus ngerasa males nglanjuttin, dan akhirnya ga pernah baca-baca buku-buku dia selanjutnya.

Beberapa waktu yang lalu Dee, memuji buku ini. Akhirnya, saya tergoda untuk membelinya, dan lagi butuh bahan tertawaan.

Cover-nya aneh banget, komentar pertama pas baca, apalagi dibuka dengan cerita kentut antara dia dan bapaknya. Tapi lama kelamaan saya menikmati guyonan dia, dan bagaimana cara dia menulis setiap bab dalam bukunya.

Komentar saya setelah membaca ini, ‘Aish, Raditya Dika ternyata penulis yang cerdas.’ 

Saya ga bakalan ngbahas buku-nya lebih detail, karena banyak kejutan lawakkan dan advice di tiap cerita dia. Yang pasti buku ini menceritakan tentang proses perpindahan. Perpindahan dari muda ke tua, perpindahan rumah, bahkan perpindahan dari hati yang satu ke hati yang lain.

Ntah kenapa, saya ngerasa baca buku ini di waktu yang tepat. Di saat saya harus mengalami perpindahan fasa dalam hidup saya. Lah jadi curhat… *tepok jidat*

Saya paling suka bagian dia dan ibunya, dan satu lagi bab ‘manusia setengah salmon’ yang kalo menurut saya adalah konklusi dari buku ini.

Saya ga nyesel beli buku ini, dan recommended to read-lah.

Saya kasih 4/5.

Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. Kita hidup diantaranya. - Radityan Dika, halaman 254 Buku ‘Manusia Setengah Salmon’

AWESOME! 
Aduh, saya itu orang yang gampang sekali terkesima sama sebuah buku, apalagi kalo buku itu banyak mengajarkan hal tentang hidup kepada saya. Telat sih baca buku ini, tapi lebih baik telat daripada tidak sama sekali.
Buku ini dari semua buku Tere Liye yang pernah saya baca, satu-satunya buku yang ga buat saya nangis, kecuali bagian Diar meninggal. Aish, itu memukul dan menyayat hati sekali.
Saya ga ngerti yah Tere Liye itu penulis macam apa sebenernya, hahaha. Tapi semua buku-buku-nya saya merasa berada di dalam dunia yang dia ceritakan.
Di sini diceritakan tentang Ray, yang harus mengalami flashback ke masa lalu-nya, melihat apa-apa saja yang telah dilewatkan dan yang tak pernah dia ketahui. Saat Ray belajar tentang hidupnya, saya juga ikut belajar banyak hal dari dia, #asik.
Buku ini recommended to read, buat yang sering ngerasa hidup ini ga adil. Karena kadang kala ke-tidak-adil-an itu hanya kita lihat dari satu sisi saja.
Saya kasih 5/5.

‘Ray, kehidupan ini selalu adil. keadilan langit mengambil berbagai bentuk. Meski tidak semua bentuk itu kita kenali, tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil? Hidup itu tidak adil? Ah, urusan ini terlanjur sulit bagimu, karena kau keras kepala.’ - Bang Ape kepada Ray, halaman 172 Buku ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu’

AWESOME! 

Aduh, saya itu orang yang gampang sekali terkesima sama sebuah buku, apalagi kalo buku itu banyak mengajarkan hal tentang hidup kepada saya. Telat sih baca buku ini, tapi lebih baik telat daripada tidak sama sekali.

Buku ini dari semua buku Tere Liye yang pernah saya baca, satu-satunya buku yang ga buat saya nangis, kecuali bagian Diar meninggal. Aish, itu memukul dan menyayat hati sekali.

Saya ga ngerti yah Tere Liye itu penulis macam apa sebenernya, hahaha. Tapi semua buku-buku-nya saya merasa berada di dalam dunia yang dia ceritakan.

Di sini diceritakan tentang Ray, yang harus mengalami flashback ke masa lalu-nya, melihat apa-apa saja yang telah dilewatkan dan yang tak pernah dia ketahui. Saat Ray belajar tentang hidupnya, saya juga ikut belajar banyak hal dari dia, #asik.

Buku ini recommended to read, buat yang sering ngerasa hidup ini ga adil. Karena kadang kala ke-tidak-adil-an itu hanya kita lihat dari satu sisi saja.

Saya kasih 5/5.

‘Ray, kehidupan ini selalu adil. keadilan langit mengambil berbagai bentuk. Meski tidak semua bentuk itu kita kenali, tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil? Hidup itu tidak adil? Ah, urusan ini terlanjur sulit bagimu, karena kau keras kepala.’ - Bang Ape kepada Ray, halaman 172 Buku ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu’

Ga sengaja lagi jalan-jalan di Goodreads, saya ngeliat buku ini. Saya udah baca buku ini cukup lama (dalam bentuk pdf yang di-unduh dari sebuah website, lupa). Saya ga tau kalo bukunya yang asli merupakan kumpulan cerpen apa bukan, soalnya cerpen (anggap saja) yang judulnya ‘Robohnya Surau Kami’ ini hanya terdiri dari beberapa halaman.
Saya pikir ini menceritakan tentang sebuah desa yang ga peduli sama suraunya, ternyata saya salah. Saya jadi ingin berterimakasih kepada A.A Navis. Karena beliau saya jadi mempertanyakan keimanan saya sama Tuhan saya. Sudah berapa banyak manfaat dari diri saya yang telah kepada saya berikan baik kepada sesama manusia, maupun makhluk ciptaan-Nya yang lain. Karena ternyata, berbuat baik dengan hanya beribadah kepada-NYa semata, belum tentu membukakan pintu surga bagi saya di akhirat kelak, jika saya berbuat jahat kepada sesama makhluk hidup lainnya.
Dalam cerita ini diceritakan seorang kakek yang menjaga sebuah surau, suatu saat kakek ini merasakan disindir menggunakan sebuah cerita oleh salah satu penduduk di kampungnya, bahwa si kakek kerjaannya hanya beribadah kepada Allah, sedangkan tidak pernah berbuat baik kepada sesama, maka kelak di akhirat kakek bukan menjadi golongan hamba yang mencium bau surga. 
Inti dari buku ini, bahwa Allah memang menugaskan kita untuk menyembahnya, terdapat pada surat Ad Zariyat ayat 56,‘Tidaklah kuciptakan manusia dan jin, kecuali untuk menyembahku.’ Tapi Dia tidak gila hormat, Dia juga menyuruh kita untuk berbuat baik kepada sesama. Dia menyuruh kita bersedekah karena sebagan dari harta kita adalah milik orang yang tidak mampu, Dia tidak menyuruh kita hanya untuk terus-terus-an beribadah dengan melupakan lingkungan sekitar kita. Bahwa, tidak cukup hanya hablumminallah yang dijaga, tetapi juga dilengkapi dengan hablumminannas.
Saya kasih nilai 5/5 :)

Ga sengaja lagi jalan-jalan di Goodreads, saya ngeliat buku ini. Saya udah baca buku ini cukup lama (dalam bentuk pdf yang di-unduh dari sebuah website, lupa). Saya ga tau kalo bukunya yang asli merupakan kumpulan cerpen apa bukan, soalnya cerpen (anggap saja) yang judulnya ‘Robohnya Surau Kami’ ini hanya terdiri dari beberapa halaman.

Saya pikir ini menceritakan tentang sebuah desa yang ga peduli sama suraunya, ternyata saya salah. Saya jadi ingin berterimakasih kepada A.A Navis. Karena beliau saya jadi mempertanyakan keimanan saya sama Tuhan saya. Sudah berapa banyak manfaat dari diri saya yang telah kepada saya berikan baik kepada sesama manusia, maupun makhluk ciptaan-Nya yang lain. Karena ternyata, berbuat baik dengan hanya beribadah kepada-NYa semata, belum tentu membukakan pintu surga bagi saya di akhirat kelak, jika saya berbuat jahat kepada sesama makhluk hidup lainnya.

Dalam cerita ini diceritakan seorang kakek yang menjaga sebuah surau, suatu saat kakek ini merasakan disindir menggunakan sebuah cerita oleh salah satu penduduk di kampungnya, bahwa si kakek kerjaannya hanya beribadah kepada Allah, sedangkan tidak pernah berbuat baik kepada sesama, maka kelak di akhirat kakek bukan menjadi golongan hamba yang mencium bau surga. 

Inti dari buku ini, bahwa Allah memang menugaskan kita untuk menyembahnya, terdapat pada surat Ad Zariyat ayat 56,‘Tidaklah kuciptakan manusia dan jin, kecuali untuk menyembahku.’ Tapi Dia tidak gila hormat, Dia juga menyuruh kita untuk berbuat baik kepada sesama. Dia menyuruh kita bersedekah karena sebagan dari harta kita adalah milik orang yang tidak mampu, Dia tidak menyuruh kita hanya untuk terus-terus-an beribadah dengan melupakan lingkungan sekitar kita. Bahwa, tidak cukup hanya hablumminallah yang dijaga, tetapi juga dilengkapi dengan hablumminannas.

Saya kasih nilai 5/5 :)

Tadinya saya udah nulis panjang-panjang tentang buku ini, tapi Google-Chrome saya error, jadinya saya nulis ulang dengan mengingat intinya doang (_ _”)s #infopenting
Basically, saya bukanlah penggila sejarah, tapi hidup di dekat orang-orang yang ‘gila’ sejarah, secara ga langsung saya jadi ikut ‘gila’. Awalnya Asa yang memperkenalkan betapa proses masuknya agama di Indonesia itu begitu terdengar menarik, dan akhirnya saya memohon untuk dipinjamkan buku yang mengandung sejarah kerajaan Indonesia. Sebagai permulaan, Asa meminjamkan Tetralogi Buru, dengan buku pertama berjudul ‘Arok-Dedes’ yang menceritakan kotornya politik di zaman kerajaan hindu, mulai dari kisah pembunuhan Tunggu Ametung (suami pertama Dedes) hingga kisah pembenaran ‘kutukan’ dari keris Empu Gandring.
Saya bukan penikmat sastra, bacaan saya terlalu ringan dan saya sadar diri otak saya ga nyampe baca beginian. It’s Pram’s, you know. Buku pertama yang saya baca dari adalah ‘Gadis Pantai’, dan saya terhenti di tengah buku, karena bahasa yang menurut saya menjelimet. Akhirnya saya ga berani baca buku Pram.
Sampai Asa merekomendasikan buku ini, saya sempet bilang sama Asa,‘Gue pinjemnya lama yah, soalnya butuh banyak waktu buat ngerti beginian.’ Tapi, mennn, buku ini menantang abis, seriusan, saya ga berenti baca ini sampe saya ngerasa bener-bener suntuk. Pram jago banget, wajar kalo dia di-rekomendasiin buat dapet Nobel di bidang sastra, dan buku ini menang banyak penghargaan. Saya jadi merasa ‘tertipu’ tentang kisah Arok-Dedes selama ini yang saya ketahui, dan saya ga menyangka bahwa kisah mereka se-‘dramatis’ itu. Saya emang belom selesai baca buku ini, dan ga tahan buat meluapkan perasaan saya, betapa saya adore sama Pram di tiap halaman. 
Saya - yang notabennya bukan penikmat sastra dan penggila sejarah - selama membaca buku ini, berjanji sama diri saya sendiri, buku ini bukanlah buku terakhir milik Pram yang akan saya baca, dan bukan hanya tentang kerajaan Hindu yang akan saya pelajari, saya jadi ingin tahu lebih banyak lagi kisah-kisah kepahlawanan kerajaan-kerajaan di Indonesia zaman dulu, termasuk Kerajaan Sriwijaya (seriusan, betapa saya bangga mengalir darah Kerajaan Sriwijaya di dalam diri saya, walau ga punya gelar, hahah).
Kalo sudah selesai baca, akan saya lengkapi review buku ini :P 
Nambahin kutipan kesukaan saya sejauh ini,

‘Apa gunanya pendapat kalau hanya diketahui diri sendiri’ - Lohgawe (guru Arok)

Tadinya saya udah nulis panjang-panjang tentang buku ini, tapi Google-Chrome saya error, jadinya saya nulis ulang dengan mengingat intinya doang (_ _”)s #infopenting

Basically, saya bukanlah penggila sejarah, tapi hidup di dekat orang-orang yang ‘gila’ sejarah, secara ga langsung saya jadi ikut ‘gila’. Awalnya Asa yang memperkenalkan betapa proses masuknya agama di Indonesia itu begitu terdengar menarik, dan akhirnya saya memohon untuk dipinjamkan buku yang mengandung sejarah kerajaan Indonesia. Sebagai permulaan, Asa meminjamkan Tetralogi Buru, dengan buku pertama berjudul ‘Arok-Dedes’ yang menceritakan kotornya politik di zaman kerajaan hindu, mulai dari kisah pembunuhan Tunggu Ametung (suami pertama Dedes) hingga kisah pembenaran ‘kutukan’ dari keris Empu Gandring.

Saya bukan penikmat sastra, bacaan saya terlalu ringan dan saya sadar diri otak saya ga nyampe baca beginian. It’s Pram’s, you know. Buku pertama yang saya baca dari adalah ‘Gadis Pantai’, dan saya terhenti di tengah buku, karena bahasa yang menurut saya menjelimet. Akhirnya saya ga berani baca buku Pram.

Sampai Asa merekomendasikan buku ini, saya sempet bilang sama Asa,‘Gue pinjemnya lama yah, soalnya butuh banyak waktu buat ngerti beginian.’ Tapi, mennn, buku ini menantang abis, seriusan, saya ga berenti baca ini sampe saya ngerasa bener-bener suntuk. Pram jago banget, wajar kalo dia di-rekomendasiin buat dapet Nobel di bidang sastra, dan buku ini menang banyak penghargaan. Saya jadi merasa ‘tertipu’ tentang kisah Arok-Dedes selama ini yang saya ketahui, dan saya ga menyangka bahwa kisah mereka se-‘dramatis’ itu. Saya emang belom selesai baca buku ini, dan ga tahan buat meluapkan perasaan saya, betapa saya adore sama Pram di tiap halaman. 

Saya - yang notabennya bukan penikmat sastra dan penggila sejarah - selama membaca buku ini, berjanji sama diri saya sendiri, buku ini bukanlah buku terakhir milik Pram yang akan saya baca, dan bukan hanya tentang kerajaan Hindu yang akan saya pelajari, saya jadi ingin tahu lebih banyak lagi kisah-kisah kepahlawanan kerajaan-kerajaan di Indonesia zaman dulu, termasuk Kerajaan Sriwijaya (seriusan, betapa saya bangga mengalir darah Kerajaan Sriwijaya di dalam diri saya, walau ga punya gelar, hahah).

Kalo sudah selesai baca, akan saya lengkapi review buku ini :P 

Nambahin kutipan kesukaan saya sejauh ini,

‘Apa gunanya pendapat kalau hanya diketahui diri sendiri’ - Lohgawe (guru Arok)

Sebenernya buku ini, bukan kategori ‘Aku Banget’ beda sama Dee Lestari yang masih bisa lebih dicerna sama otak saya yang minim ini, tapi Seno Gumira Ajidarma sukses memerangkap saya untuk terus-dan-terus membaca buku ini. Saya ga habis pikir yah otaknya dia terbuat dari apa, menghasilkan imajinasi-imajinasi yang begitu indahnya. Dan yang paling saya yakini, cerita yang dia buat, pasti menghasilkan makna yang berbeda-beda tergantung sudut pandang pembacanya. 
Saya paling suka Cintaku Jauh di Pulau Komodo yang menurut saya memiliki makna penting tentang penerimaan dan Badak Kencana tentang keserakahan, ntah kenapa menurut saya ini karya sastra yang indah, bagi pemula seperti saya yang baru akhir-akhir ini membaca sastra, eh, ngomong-ngomong sastra, buku ini termasuk karya sastra kah? 
saya kasih nilai 4 dari 5 :)
ada quotes yang bagus dari Cintaku Jauh di Pulau Komodo yang saya suka, 

‘Cinta yang abadi bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap terus menerus menimbulkan tanda tanya : Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku?’

Sebenernya buku ini, bukan kategori ‘Aku Banget’ beda sama Dee Lestari yang masih bisa lebih dicerna sama otak saya yang minim ini, tapi Seno Gumira Ajidarma sukses memerangkap saya untuk terus-dan-terus membaca buku ini. Saya ga habis pikir yah otaknya dia terbuat dari apa, menghasilkan imajinasi-imajinasi yang begitu indahnya. Dan yang paling saya yakini, cerita yang dia buat, pasti menghasilkan makna yang berbeda-beda tergantung sudut pandang pembacanya. 

Saya paling suka Cintaku Jauh di Pulau Komodo yang menurut saya memiliki makna penting tentang penerimaan dan Badak Kencana tentang keserakahan, ntah kenapa menurut saya ini karya sastra yang indah, bagi pemula seperti saya yang baru akhir-akhir ini membaca sastra, eh, ngomong-ngomong sastra, buku ini termasuk karya sastra kah? 

saya kasih nilai 4 dari 5 :)

ada quotes yang bagus dari Cintaku Jauh di Pulau Komodo yang saya suka, 

‘Cinta yang abadi bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap terus menerus menimbulkan tanda tanya : Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku?’

buku kedua yang saya jelajahi setelah ‘Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai’ milik Goenawan Mohamad. buku ini sendiri lebih kepemikirin ‘sederhana’ milik GM yang sering kali muncul di linimasa saya, hanya kali ini saya menemukannya dalam bentuk buku. 
menarik. saya memanglah salah satu pengagum GM, walau seringkali bertentangan dengan pemikiran-pemikiran yang dimilikinya. saya sendiri tidak terlalu mengerti apa itu sastra, atau filsafat sesungguhnya. tapi buku ini memancing hasrat saya untuk memutar otak lebih keras, sama seperti waktu memahami tentang Fisika Plasma.
buku ini berisikan pemikiran-pemikiran singkat milik GM, yang menceritakan tentang pagi hari, Tuhan, Agama, Indonesia, dan banyak hal lainnya. seperti yang telah saya katakan, kapasitas otak saya tidak terlalu cerdas hingga betul-betul memahami isi kepala GM, tapi saya cukup banyak belajar setelah membaca buku ini, karena sekali lagi, otak menjadi reaktif. apalagi hal-hal yang berhubungan dengan ketuhanan dan agama Islam. GM yang merupakan salah satu penggiat JIL, tentulah memiliki banyak sudut pandang yang berbeda dengan saya, tapi bukankah perbedaan malah menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri.
buku ini saya kasih 3/5, karena saya butuh kerja keras untuk menghabiskan. hahaha

buku kedua yang saya jelajahi setelah ‘Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai’ milik Goenawan Mohamad. buku ini sendiri lebih kepemikirin ‘sederhana’ milik GM yang sering kali muncul di linimasa saya, hanya kali ini saya menemukannya dalam bentuk buku. 

menarik. saya memanglah salah satu pengagum GM, walau seringkali bertentangan dengan pemikiran-pemikiran yang dimilikinya. saya sendiri tidak terlalu mengerti apa itu sastra, atau filsafat sesungguhnya. tapi buku ini memancing hasrat saya untuk memutar otak lebih keras, sama seperti waktu memahami tentang Fisika Plasma.

buku ini berisikan pemikiran-pemikiran singkat milik GM, yang menceritakan tentang pagi hari, Tuhan, Agama, Indonesia, dan banyak hal lainnya. seperti yang telah saya katakan, kapasitas otak saya tidak terlalu cerdas hingga betul-betul memahami isi kepala GM, tapi saya cukup banyak belajar setelah membaca buku ini, karena sekali lagi, otak menjadi reaktif. apalagi hal-hal yang berhubungan dengan ketuhanan dan agama Islam. GM yang merupakan salah satu penggiat JIL, tentulah memiliki banyak sudut pandang yang berbeda dengan saya, tapi bukankah perbedaan malah menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri.

buku ini saya kasih 3/5, karena saya butuh kerja keras untuk menghabiskan. hahaha

komentar yang keluar pada saat liat buku ini,’Aku Banget.’ 
padahal baru ngeh sama judul Filosofi Kopi-nya doang, tapi keseluruhan cerpen yang dibuat oleh Dee dari tahun 1995-2005 ini cerdas banget. saya belum pernah baca Supernova yang dielu-elukan oleh banyak orang, tapi Perahu Kertas, Madre, dan Filosofi Kopi ini makin mengukuhkan bahwa Dee adalah penulis Indonesia favorit saya, gaya bahasa yang ringan dan award ‘Aku Banget’ membuat semua buku Dee jadi punya nilai plus. 
sebenarnya semua cerpen di buku ini menjadi favorit saya, tapi ntah kenapa ‘Surat Yang Tak Pernah Sampai’ sukses membuat saya membacanya berulang-ulang tanpa bosan. monolog yang super menarik, yang bikin saya terhenti membacanya hanya untuk tersenyum-simpul-malu-sendiri. hahaha. ‘Selagi Kau Lelap’-pun juga berhasil membuat imajinasi saya mengawang-ngawang di angkasa. dan ‘Salju Gurun’ pun tak kalah menarik, karena sukses mengajarkan saya untuk menjadi ‘berbeda’. tetapi benar bahwa ‘Filosofi Kopi’ adalah yang terbaik dari seluruh cerpen disini, sebagai penikmat kopi sejati, saya paham betul perasaan Ben. dari sini saya belajar kembali tentang lentera jiwa yang dimiliki Ben, serta arti persahabatan antara Jody.
buku ini saya kasih nilai 4/5. 
note: ini merupakan weeklychallenge antara saya dan Farhan (yang sampai sekarang orangnya belum bikin review satupun), maklum saya pengangguran ga punya kerjaan, jadi numblr muluk. nyahaha

komentar yang keluar pada saat liat buku ini,’Aku Banget.’ 

padahal baru ngeh sama judul Filosofi Kopi-nya doang, tapi keseluruhan cerpen yang dibuat oleh Dee dari tahun 1995-2005 ini cerdas banget. saya belum pernah baca Supernova yang dielu-elukan oleh banyak orang, tapi Perahu Kertas, Madre, dan Filosofi Kopi ini makin mengukuhkan bahwa Dee adalah penulis Indonesia favorit saya, gaya bahasa yang ringan dan award ‘Aku Banget’ membuat semua buku Dee jadi punya nilai plus. 

sebenarnya semua cerpen di buku ini menjadi favorit saya, tapi ntah kenapa ‘Surat Yang Tak Pernah Sampai’ sukses membuat saya membacanya berulang-ulang tanpa bosan. monolog yang super menarik, yang bikin saya terhenti membacanya hanya untuk tersenyum-simpul-malu-sendiri. hahaha. ‘Selagi Kau Lelap’-pun juga berhasil membuat imajinasi saya mengawang-ngawang di angkasa. dan ‘Salju Gurun’ pun tak kalah menarik, karena sukses mengajarkan saya untuk menjadi ‘berbeda’. tetapi benar bahwa ‘Filosofi Kopi’ adalah yang terbaik dari seluruh cerpen disini, sebagai penikmat kopi sejati, saya paham betul perasaan Ben. dari sini saya belajar kembali tentang lentera jiwa yang dimiliki Ben, serta arti persahabatan antara Jody.

buku ini saya kasih nilai 4/5. 

note: ini merupakan weeklychallenge antara saya dan Farhan (yang sampai sekarang orangnya belum bikin review satupun), maklum saya pengangguran ga punya kerjaan, jadi numblr muluk. nyahaha

Totto-Chan : Gadis Cilik di Jendela
Kemarin sempet ngobrol bareng temen saya, Farhan, yang mengajak untuk membuat review buku yang kita baca. Nah, karena saya lagi menggencarkan #BukaBuku, saya ingin berbagi inspirasi dari buku yang udah saya baca. Check this out!
Totto-Chan adalah buku favorit saya sejauh ini. Pertama kali baca ini gara-gara waktu itu disuruh sama seorang temen, waktu saya baru saja jadi kepala sekolah SKHOLE, dia bilang saya harus jadi kayak Pak Kobayashi.
Siapa Pak Kobayashi? Lalu siapa Totto-Chan?
Buku ini merupakan kisah nyata dari seorang yang bernama Tetsuko Kuroyanagi (saat ini dia merupakan duta UNICEF PBB), yang nama kecilnya adalah Totto-Chan. Totto-Chan kecil terbilang ‘bandel’ oleh guru-guru di sekolahnya, ntah sudah berapa kali gurunya kesal. Momen puncak kekesalan gurunya hingga memutuskan untuk mengeluarkan dia dari sekolah, saat Totto-Chan duduk di samping jendela memanggil-manggil pemain musik jalanan yang kebetulan lewat di depan kelasnya. Sungguh anak yang istimewa sebenarnya, tapi guru-guru di sekolahnya tidak ada yang menyadari ini.
Akhirnya ibunya memutuskan untuk membaca Totto-Chan ke sebuah sekolah bernama Tomo Gakuen. Saat pertama kali di sana Totto-Chan sungguh merasa bahagia, karena dia melihat banyak sekali gerbong-gerbong kereta yang ternyata itu adalah kelasnya nanti. Kemudian dia di sambut baik oleh Pak Kobayashi yang merupakan adalah Kepala Sekolah Tomo Gakuen. Kali pertama bertemu Totto-Chan, Pak Kobayashi mengajak Totto-Chan mengobrol hingga 3 jam, dan dalam 3 jam itu Totto-Chan diperbolehkan berbicara tentang apa saja yang dia inginkan, hingga dia sendiri kehabisan bahan untuk dibicarakan, selesai dari pembicaraan tersebut Totto-Chan benar-benar merasa dihargai dan disayangi oleh Pak Kobayashi, dan sejak saat itu dia jatuh cinta kepada Pak Kobayashi.
Buku ini sungguh menarik, konon katanya di Jepang buku ini menjadi bahan bacaan wajib bagi guru-guru di Jepang. Tentu saja, karena seluruh buku ini berisikan tentang pendidikan bagi anak-anak sekolah dasar dengan bahasan yang menarik. Tetsuko dapat membuat orang yang membaca ini merasa dekat sekali dengan Pak Kobayashi, Totto-Chan sendiri, dan teman-teman Totto-Chan. Di Tomo Gakuen, anak-anak diajarkan melakukan apa saja yang mereka sukai, di pagi hari masuk kelas, mereka diberi selembar catatan berisikan daftar pelajaran dan mereka boleh memilih ingin belajar apa yang pertama kali ingin mereka pelajari. Jadi di dalam kelas tersebut ada anak yang belajar Fisika duluan, atau berhitung duluan, atau sastra.
Karakter Pak Kobayashi yang tampaknya betul-betul membuat saya merasa dia benar-benar nyata adalah bagaimana dia memperlakukan anak-anak didiknya dengan sangat adil. Pernah suatu saat Totto-Chan mengorek-ngorek sebuah lubang kotor karena dompetnya jatuh di sekitar itu, kemudian Pak Kobayashi melihat kejadian itu, dan dia bertanya apa yang sedang di lakukan Totto-Chan, kemudian Totto-Chan menceritakan kejadi dompetnya jatuh di lubang tersebut hingga dia harus mengeluarkan lumpur-lumpur didalamnya. Pak Kobayashi tidak marah dengan apa yang dilakukan Totto-Chan, dia mengatakan,

’kamu anak yang baik bukan Totto-Chan, karena itu setelah dompetmu ketemu, kembali rapihkan lubang yang kamu buku.’

Pak Kobayashi, berhasil membuat anak-anak merasa dihargai layaknya anak-anak, dan dia mengerti benar itu. Kadang sebagai orang dewasa kita menempatkan posisi kita lebih tinggi dibandingkan mereka, mana mungkin anak-anak akan mengerti kita sedangkan mereka tak pernah jadi orang dewasa bukan?
Satu hal yang saya pelajari dari buku ini jangan pernah melabeli anak-anak dengan kata-kata yang tidak baik, apalagi saat kita marah, karena mereka akan tersugesti mereka adalah sama dengan label tersebut. Berbicaralah dengan anak yang baik-baik, karena mereka adalah peniru, jika kita baik maka mereka akan meniru kebaikkan kita. Jangan pernah bilang kepada anak kecil,’mereka nakal’. Karena Pak Kobayashi selalu mengatakan ke murid-muridnya,’kamu anak yang baik bukan?’
Buku ini layak dibaca oleh siapa saja, termasuk kamu yang kelak nantinya akan menjadi guru untuk anak-anakmu sendiri.
Saya kasih nilai 5/5
5 : wajib baca
4 : bagus sekali
3 : menyenangkan
2 : menghibur
1 : cukup menyenangkan

Totto-Chan : Gadis Cilik di Jendela

Kemarin sempet ngobrol bareng temen saya, Farhan, yang mengajak untuk membuat review buku yang kita baca. Nah, karena saya lagi menggencarkan #BukaBuku, saya ingin berbagi inspirasi dari buku yang udah saya baca. Check this out!

Totto-Chan adalah buku favorit saya sejauh ini. Pertama kali baca ini gara-gara waktu itu disuruh sama seorang temen, waktu saya baru saja jadi kepala sekolah SKHOLE, dia bilang saya harus jadi kayak Pak Kobayashi.

Siapa Pak Kobayashi? Lalu siapa Totto-Chan?

Buku ini merupakan kisah nyata dari seorang yang bernama Tetsuko Kuroyanagi (saat ini dia merupakan duta UNICEF PBB), yang nama kecilnya adalah Totto-Chan. Totto-Chan kecil terbilang ‘bandel’ oleh guru-guru di sekolahnya, ntah sudah berapa kali gurunya kesal. Momen puncak kekesalan gurunya hingga memutuskan untuk mengeluarkan dia dari sekolah, saat Totto-Chan duduk di samping jendela memanggil-manggil pemain musik jalanan yang kebetulan lewat di depan kelasnya. Sungguh anak yang istimewa sebenarnya, tapi guru-guru di sekolahnya tidak ada yang menyadari ini.

Akhirnya ibunya memutuskan untuk membaca Totto-Chan ke sebuah sekolah bernama Tomo Gakuen. Saat pertama kali di sana Totto-Chan sungguh merasa bahagia, karena dia melihat banyak sekali gerbong-gerbong kereta yang ternyata itu adalah kelasnya nanti. Kemudian dia di sambut baik oleh Pak Kobayashi yang merupakan adalah Kepala Sekolah Tomo Gakuen. Kali pertama bertemu Totto-Chan, Pak Kobayashi mengajak Totto-Chan mengobrol hingga 3 jam, dan dalam 3 jam itu Totto-Chan diperbolehkan berbicara tentang apa saja yang dia inginkan, hingga dia sendiri kehabisan bahan untuk dibicarakan, selesai dari pembicaraan tersebut Totto-Chan benar-benar merasa dihargai dan disayangi oleh Pak Kobayashi, dan sejak saat itu dia jatuh cinta kepada Pak Kobayashi.

Buku ini sungguh menarik, konon katanya di Jepang buku ini menjadi bahan bacaan wajib bagi guru-guru di Jepang. Tentu saja, karena seluruh buku ini berisikan tentang pendidikan bagi anak-anak sekolah dasar dengan bahasan yang menarik. Tetsuko dapat membuat orang yang membaca ini merasa dekat sekali dengan Pak Kobayashi, Totto-Chan sendiri, dan teman-teman Totto-Chan. Di Tomo Gakuen, anak-anak diajarkan melakukan apa saja yang mereka sukai, di pagi hari masuk kelas, mereka diberi selembar catatan berisikan daftar pelajaran dan mereka boleh memilih ingin belajar apa yang pertama kali ingin mereka pelajari. Jadi di dalam kelas tersebut ada anak yang belajar Fisika duluan, atau berhitung duluan, atau sastra.

Karakter Pak Kobayashi yang tampaknya betul-betul membuat saya merasa dia benar-benar nyata adalah bagaimana dia memperlakukan anak-anak didiknya dengan sangat adil. Pernah suatu saat Totto-Chan mengorek-ngorek sebuah lubang kotor karena dompetnya jatuh di sekitar itu, kemudian Pak Kobayashi melihat kejadian itu, dan dia bertanya apa yang sedang di lakukan Totto-Chan, kemudian Totto-Chan menceritakan kejadi dompetnya jatuh di lubang tersebut hingga dia harus mengeluarkan lumpur-lumpur didalamnya. Pak Kobayashi tidak marah dengan apa yang dilakukan Totto-Chan, dia mengatakan,

’kamu anak yang baik bukan Totto-Chan, karena itu setelah dompetmu ketemu, kembali rapihkan lubang yang kamu buku.’

Pak Kobayashi, berhasil membuat anak-anak merasa dihargai layaknya anak-anak, dan dia mengerti benar itu. Kadang sebagai orang dewasa kita menempatkan posisi kita lebih tinggi dibandingkan mereka, mana mungkin anak-anak akan mengerti kita sedangkan mereka tak pernah jadi orang dewasa bukan?

Satu hal yang saya pelajari dari buku ini jangan pernah melabeli anak-anak dengan kata-kata yang tidak baik, apalagi saat kita marah, karena mereka akan tersugesti mereka adalah sama dengan label tersebut. Berbicaralah dengan anak yang baik-baik, karena mereka adalah peniru, jika kita baik maka mereka akan meniru kebaikkan kita. Jangan pernah bilang kepada anak kecil,’mereka nakal’. Karena Pak Kobayashi selalu mengatakan ke murid-muridnya,’kamu anak yang baik bukan?’

Buku ini layak dibaca oleh siapa saja, termasuk kamu yang kelak nantinya akan menjadi guru untuk anak-anakmu sendiri.

Saya kasih nilai 5/5

5 : wajib baca

4 : bagus sekali

3 : menyenangkan

2 : menghibur

1 : cukup menyenangkan

gue masih ga paham yah, ga ada buku Tere-Liye yang gue ga nangis pas bacanya. hafalan shalat delisha, moga bunda di sayang Allah, bidadari-bidadari surga, bahkan the gogons.
penulis macam apa dia.
tiap abis baca bukunya selalu ada ‘hikmah’ yang kebawa, bahkan delisha, gue selalu menganggap delisha itu ada yang kalo rindu selalu gue baca ulang. 
buku ini, crap keren abis. menampar gue banget, cuman punya satu adik tapi kadang-kadang ngerasa jauh banget dari kakak terbaik. Kak Laisa is too perfect, too perfect. cintanya, kasih sayangnya, kesederhanaannya, keikhlasannya, sulit menemukan orang macam begini di jaman sekarang. bisa yah ada orang sekeren itu. 
dari buku ini juga gue banyak belajar masalah pendidikan. 
perfect!
gue kasih nilai 4/5

gue masih ga paham yah, ga ada buku Tere-Liye yang gue ga nangis pas bacanya. hafalan shalat delisha, moga bunda di sayang Allah, bidadari-bidadari surga, bahkan the gogons.

penulis macam apa dia.

tiap abis baca bukunya selalu ada ‘hikmah’ yang kebawa, bahkan delisha, gue selalu menganggap delisha itu ada yang kalo rindu selalu gue baca ulang. 

buku ini, crap keren abis. menampar gue banget, cuman punya satu adik tapi kadang-kadang ngerasa jauh banget dari kakak terbaik. Kak Laisa is too perfect, too perfect. cintanya, kasih sayangnya, kesederhanaannya, keikhlasannya, sulit menemukan orang macam begini di jaman sekarang. bisa yah ada orang sekeren itu. 

dari buku ini juga gue banyak belajar masalah pendidikan. 

perfect!

gue kasih nilai 4/5