Ntah kenapa, saya jadi begitu tertarik dengan karakter Dedes. Di buku Arok-Dedes, Dedes digambarkan seorang brahmani yang begitu sejati, bahkan setelah dia menikah dengan Tunggul Ametung dan menjadi permaisuri-nya, Dedes dinobatkan sebagai Dewi Kebijaksanaan. Di luar dengan kontroversi perselingkuhannya (sejujurnya saya belum sampai part ini), saya ngerasa Dedes sosok perempuan dengan pemikiran yang begitu modern yang hidup di jaman dulu. Sosok yang tidak hanya pintar, tetapi begitu cerdas saat mengatur-ngatur taktiknya. Okeh, saya mulai takut jatuh cinta dengan karakternya. Hahaha. Pak Pram, help me!

Ntah kenapa, saya jadi begitu tertarik dengan karakter Dedes. Di buku Arok-Dedes, Dedes digambarkan seorang brahmani yang begitu sejati, bahkan setelah dia menikah dengan Tunggul Ametung dan menjadi permaisuri-nya, Dedes dinobatkan sebagai Dewi Kebijaksanaan. Di luar dengan kontroversi perselingkuhannya (sejujurnya saya belum sampai part ini), saya ngerasa Dedes sosok perempuan dengan pemikiran yang begitu modern yang hidup di jaman dulu. Sosok yang tidak hanya pintar, tetapi begitu cerdas saat mengatur-ngatur taktiknya. Okeh, saya mulai takut jatuh cinta dengan karakternya. Hahaha. Pak Pram, help me!

lagi baca-baca Ustman bin Affan, malah jadi ketemu biografi beliau. aaaah, dulu waktu SMA bersyukur banget bisa tahu rumus dibawah ini,
 

 identitas trigonometri berikut ini:
sin(a + b) = sin(a)cos(b) + cos(a)sin(b)cos(2a) = 1 − 2sin 2(a)sin(2a) = 2sin(a)cos(a)rumus sinus untuk geometri sferik (yang tampak mirip dengan hukum sinus):

ternyata Abu Wafa seorang ilmuwan muslim jenius yang menemukannya. sumpah gue merinding dan terharu bacanya :’)
lebih lengkapnya baca disini:
wikipedia
blog

lagi baca-baca Ustman bin Affan, malah jadi ketemu biografi beliau. aaaah, dulu waktu SMA bersyukur banget bisa tahu rumus dibawah ini,

 identitas trigonometri berikut ini:

sin(a + b) = sin(a)cos(b) + cos(a)sin(b)

cos(2a) = 1 − 2sin 2(a)

sin(2a) = 2sin(a)cos(a)

rumus sinus untuk geometri sferik (yang tampak mirip dengan hukum sinus):

\frac{\sin(A)}{\sin(a)} = \frac{\sin(B)}{\sin(b)} = \frac{\sin(C)}{\sin(c)}

ternyata Abu Wafa seorang ilmuwan muslim jenius yang menemukannya. sumpah gue merinding dan terharu bacanya :’)

lebih lengkapnya baca disini:

  1. wikipedia
  2. blog
Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman. Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 — 16 Desember 1969 akibat gas beracun.Setelah lulus dari SMA Kanisius Gie melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia tahun 1961. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.Soe Hok Gie di pilar triangulasi puncak Pangrango, 1967Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman. Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 — 16 Desember 1969 akibat gas beracun.

Setelah lulus dari SMA Kanisius Gie melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia tahun 1961. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Soe Hok Gie di pilar triangulasi puncak Pangrango, 1967

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

yang sebelah kanan namanya Pak Ludwig Eduard Boltzmann dan sebelah kiri namanya adalah Pak James Clerk Maxwell. keduanya menemukan secara bersama-sama distribusi Maxwell-Boltzmann, yang fungsinya digunakan untuk mengetahui persebaran dan melihat interaksi antara partikel-partikel di dalam gas yang collisionless dan bergerak bebas.

sumber photo : Boltzmann dan Maxwell 

cwnl:

On This Day: 9/27/1905 Albert Einstein Describes Space & Time
Happy Birthday E=mc^2! Now turning 106 years old
Albert Einstein (1879-1955) is considered by many the greatest astrophysicist. He is pictured here in the Swiss Patent Office where he did much of his great work. Einstein’s many visionary scientific contributions include the equivalence of mass and energy (E=mc^2), how the maximum speed limit of light affects measurements of time and space (special relativity), and a more accurate theory of gravity based on simple geometric concepts (general relativity). One reason Einstein was awarded the 1921 Nobel Prize in Physics was to make the prize more prestigious.
September 27, 1905 is generally considered the birthday of the equation because that is the day that Einstein’s paper outlining the significance of the equation arrived in the offices of the German journal Annalen der Physik.

papaaaa, papa fisika :3:3

cwnl:

On This Day: 9/27/1905 Albert Einstein Describes Space & Time

Happy Birthday E=mc^2! Now turning 106 years old

Albert Einstein (1879-1955) is considered by many the greatest astrophysicist. He is pictured here in the Swiss Patent Office where he did much of his great work. Einstein’s many visionary scientific contributions include the equivalence of mass and energy (E=mc^2), how the maximum speed limit of light affects measurements of time and space (special relativity), and a more accurate theory of gravity based on simple geometric concepts (general relativity). One reason Einstein was awarded the 1921 Nobel Prize in Physics was to make the prize more prestigious.

September 27, 1905 is generally considered the birthday of the equation because that is the day that Einstein’s paper outlining the significance of the equation arrived in the offices of the German journal Annalen der Physik.

papaaaa, papa fisika :3:3

(Source: ikenbot, via smoothgraph)

proklamasi - Tan Malaka

aseptia:

sebuah kutipan tentang kemerdekaan dari pidato Tan Malaka di depan panitia kongres rakyat Indonesia bulan Desember 1948


Inilah artinya isi Proklamasi 17 Agustus, 100 % kemerdekaan dalam memiliki dan mempergunakan semua sifat dan hak dalam faham kenegaraan. Kemerdekaan 100 % itu sudah lepas dari kungkungannya yang dipaksakan atas bangsa Indonesia.

Kemerdekaan 100 % itu tetap menjadi hak mutlak Bangsa Indonesia juga diwaktu terhimpit oleh Kapitalisme-Imperialisme Asing selama tahunan.

Dengan meletusnya Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 maka terlepaslah Dewi Kemerdekaan Indonesia dari belenggunya dan terlepaslah semua yang menghimpitnya selama 350 tahun itu.

Sendirinya semenjak 17 Agustus itu kemerdekaan 100 % itu kembali menjadi SUMBER segalanya macam kekuasaan Bangsa Indonesia dalam politik-diplomasi, perekonomian-keuangan, sosial-kebudayaan dll.:

Kembalilah kedaulatan Bangsa Indonesia ke tangannya sendiri.

Pemindahan seluruh atau sebagianpun dari kemerdekaan/kedaulatan Rakyat Indonesia itu ke tangan Asing dengan maksud dan alasan manapun juga walaupun selama satu menit saja dan membagi-bagi kemerdekaan/kedaulatan bangsa Indonesia diantara Bangsa Indonesia dengan bangsa lain manapun juga adalah sesuatu pelanggaran atas proklamasi itu bahkan sesuatu pengkhiatan terhadap Proklamasi yang sudah dibela oleh Rakyat/murba dan Pemuda Indonesia dengan pengorbanan harta benda dan jiwa raganya sendiri.

Kemerdekaan sesuatu bangsa adalah “UNALIENNABLE” (tak boleh dipindahkan ataupun dibagi-bagi).

Bukanlah kemerdekaan 100 % itu sesuatu “hasrat atau cita-cita” lagi bagi Rakyat Indonesia yang sudah diperoleh dengan pengorbanan yang tiada bisa ditebus atau dibatalkan lagi oleh perjanjian apapun dan oleh siapapun juga.

Sajak Sebatang Lisong

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenian

bunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………

kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA
( itb bandung – 19 agustus 1978 )

* ) Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta” yang disutradarai oleh Sumandjaya.

dunia-perfilman:

Saja tidak tahu akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa.
Tetapi permohonanku kepadaNja ialah, supaya hidupku itu hidup jang manfaat.
Manfaat bagi tanah air dan bangsa, manfaat bagi sesama manusia.
Permohonanku ini saja pandjatkan pada tiap-tiap sembahjang.
Sebab, Dialah Asal segala Asal,
Dialah “Purwaning Dumadi”
Soekarno - 6/6 ‘57

dunia-perfilman:

Saja tidak tahu akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa.

Tetapi permohonanku kepadaNja ialah, supaya hidupku itu hidup jang manfaat.

Manfaat bagi tanah air dan bangsa, manfaat bagi sesama manusia.

Permohonanku ini saja pandjatkan pada tiap-tiap sembahjang.

Sebab, Dialah Asal segala Asal,

Dialah “Purwaning Dumadi”

Soekarno - 6/6 ‘57