Virginia Woolf, from To the Lighthouse
“I have taken a vow to love myself in good times and bad.”
— Unknown
Kalau kamu jatuh cinta di usia muda, simpan saja dulu. Nanti kalau sudah ketemu realita, kamu akan paham bahwa cintamu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biaya perasaan, biaya waktu, biaya pikiran, biaya materi. Nanti kamu akan sadar bahwa cinta yang kamu rasakan itu tidak akan cukup membawamu kepada kebahagiaan jika kamu tidak siap secara lahir dan batin.
Tidak siap untuk bekerja keras, tidak siap untuk menghadapi kerasnya hidup. Dan tidak siap untuk tanggungjawab yang lebih besar.
Simpan saja dulu. Sampai cukup bijak cara berpikir dan bertindakmu, sampai kamu bisa mengerti kalau rasa cinta itu takkan begitu seterusnya, ia naik dan turun. Dan yang akan menjaga semuanya adalah komitmen, komitmen kalian berdua. Karena hubungan yang sehat, adalah yang diperjuangkan keduanya, tidak hanya salah satu.
kurniawangunadi
tapi komitmen itu karena cinta.
karena cinta kita menjaga pasangan kita
karena cinta kita mengasihinya
karena cinta kerja 24 jam mencari nafkah tidak menjadi masalah
karena cinta masalah genteng bocor bisa dirapihkan
karena cinta piring kotor di wastafel cuci piring jadi bersih
karena cinta rumah rapih
karena cinta pasangan pulang kerja disambut dengan senyum manis
karena cinta bangun pagi untuk menyiapkan sarapan
karena cinta tidak tidur menjaga pasangan yang sakit
karena cinta kita bisa mengahadapi segala naik turun kehidupan
karena cinta kita bisa melawan dunia bersama
karena cinta setiap harinya terasa cepat dan bahagia
karena cinta anak bisa dibesarkan lebih bahagia untuk menghadapi dunia
karena cinta…. dan seterusnya. seterusnya.
“Remember the time you thought you never could survive? You did, and you can do it again.”
— Unknown
Dec 2021 (1)
gue selalu percaya kerja keras akan menghasilkan sesuatu, i do it with all of my own since the beginning of my life. gue tau gue bukan jenius jadinya gue musti rajin belajar, biar lulus SD, SMP, SMA, kuliah S1, dan kuliah S2.
tapi kayaknya hal tersebut ga berlaku buat disayangi oleh orang lain, seberapa kerja keras pun gue berusaha menyangi orang tersebut. kalo orangnya ga sayang dengan kita, yah kita ga akan disayangi.
jadi buat gue, bertemu dan hidup bersama dengan orang yang kita sayang dan menyayangi kita, itu sebuah keberuntungan. hal ini bagi gue berlaku buat hubungan dengan orang tua, pertemanan, termasuk pasangan lawan jenis.
i really wish everybody could have their own miracle, including me. amin.
Selain mendatangkan banyak kematian secara singkat, perang dan pandemi juga sama-sama kerap menghidupkan imaji tentang (ke)pahlawan(an).
Kisah para dokter dan perawat yang wafat karena terpapar COVID-19 tidak pernah tidak memantik keharuan. Sulit untuk tidak hormat kepada Dr. Michael Robert Marampe yang merelakan agenda pertunangannya ditunda, mula-mula sementara karena hendak fokus menangani pandemi, dan akhirnya selamanya karena ia meninggal. Rekaman-rekaman yang memperlihatkan tenaga medis yang kelelahan, yang dengan APD tebal dan bikin gerah masih berusaha menghibur diri dengan menari atau bernyanyi, kian mempertebal imajinasi tentang tenaga medis serupa prajurit yang tiarap dalam sepi no man’s land.
Tindakan-tindakan menggugah seperti itu sangat berlimpah, dan itu bukan monopoli para tenaga medis.
Sebuah keluarga berstatus ODP di Minahasa Utara memilih pergi ke hutan untuk mengisolasi diri karena enggan merepotkan atau membuat cemas tetangganya. Belum lama saya membaca suami istri yang baru punya bayi, keduanya bekerja sebagai ojol, tak punya tempat tinggal karena tak sanggup membayar kontrakannya di Jakarta. Mereka terlunta-lunta di sekitar Sarinah, dan rekan-rekannya sesama ojol membawa mereka ke salah satu basecamp komunitas. Seorang ojol perempuan kemudian berbaik hati menyediakan kamar kosnya untuk bayi dan ibunya itu.
Kebanyakan kisah hangat seeprti yang menghangatkan hati seperti itu tak pernah kita ketahui karena tidak dicatat wartawan atau diceritakan mereka sendiri di media sosial. Boleh jadi karena mereka tak menganggap dirinya, juga tindakannya, sebagai istimewa. Barangkali bahkan mereka melakukannya nyaris tanpa alasan: memangnya butuh alasan untuk membelikan nasi bungkus kepada orang yang sedang kelaparan?
1. See it as something that is temporary. Even though it hurts now, it doesn’t mean it’s permanent. You’ll find other people who will treat you well – so be gentle on yourself and recognise it will pass.
2. Learn to enjoy your own company. See it as a time to reflect on your life, and really think through what you want for yourself. Also, find different interests you can do on your own – and maybe try something different you’ve never tried before.
3. Spend time looking after an animal. Pets are accepting, reliable and loyal. They’ll never hurt your feelings – and are good company.
4. Treat other people you meet really well (talk to people at the checkout, or smile at those you meet). That will likely result in a warm, friendly response – and will remind you there are others who appreciate you.
5. Hang out with those who like the same things as you. If you’ve taken up a hobby or you like watching sport, speak to people you meet at these events. Even though you don’t know them, they are still good company.
6. Don’t let this bad experience hold you back. Keep reaching out to others, have the courage to take risks and eventually you’ll start to make some much better friends.
This being human is a guest house
Every morning a new arrival
A joy, a depression, a meanness
some momentary awareness comes
As an unexpected visitor
Welcome and entertain them all!
Even if they’re a crowd of sorrows
who violently sweep your house
empty of its furniture
still treat each guest honorably
He may be clearing you out
for some new delight
The dark thought, the shame, the malice,
meet them at the door laughing and invite them in
Be grateful for whoever comes,
because each has been sent
as a guide from beyond
— Jalaluddin Rumi, translation by Coleman Barks
take a deep breath.
inhale.
exhale.
i promise that i will stop feeding the monster inside me.
and, accept all the things that i’ve been through my whole life.
whether it hurts me, and made me want to disappear from this world as soon as possible.
or it cheer my day up, and made me the happiest person in the universe.
all those things, were happened for reasons.
to build me. to break me. to develop me. to give me memories. to heal me. to help me growing.
this is the way.
Waktu pertama kali dengar Sampai Jadi Debu, terganggu banget dengan part Ananda Badudu nyanyi di bagian,
Tiap taufan menyerang//Kau di sampingku//Kau aman ada bersama ku
Saya bahkan sempet mentioned Ananda Badudu di twitter karena gemes, kok ga adil. Kenapa cuman bagian Rara Sekar yang bilang, ‘Ku aman ada bersamamu.’ Kesannya superior banget laki-laki, hanya boleh perempuan yang ingin merasa aman. Padahal, menurut saya, laki dan perempuan adalah sama-sama makhluk vulnerable dalam sebuah hubungan. Yah harusnya masing-masing harus saling merasa ‘aman’ terhadap satu sama lain.
Sampai kemudian, kalo ga salah, Ayu mentioned saya ditwitter. Ananda merevisi liriknya. Kata Ananda, memang harusnya sama-sama merasa saling aman, tapi karena sudah keburu emosional saat Rara dan Ananda menyanyikan Sampai Jadi Debu untuk pertama dan terakhir kalinya, Ananda ga mau merevisi lagu itu. Ananda menyanyikan lagu ini kembali dengan Monita dengan menggunakan lirik asli yang dia tulis,
‘Ku aman, ada bersamamu.’
-
Kenapa hal itu mengganggu saya banget? Saya paham alasannya, tapi saya ga bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Mungkin, lebih ke masalah personal kali yah. Haha. Karena, setelah gagal menjalankan pernikahan, dan saya mendengarkan lagu Sampai Jadi Debu bertahun-tahun kemudian, saya sadar kenapa saya ingin banget dengar part laki-laki menyanyikan kalimat, ‘Ku aman, ada bersamamu.’
I cant explain it how i felt about it. Tapi, when you through a marriage life, you will understand sih that both of you, need to feel safe from each other, for each other.